Warga Kampung Gang Tali – Rumah Bilik Dan Makan Aking

TANGERANG – Kehidupan puluhan keluarga miskin di Kampung Gang Tali, Desa Sukadiri, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang sangat mengenaskan. Rumah-rumah mereka sudah berukuran kecil, terbuat dari gedek, dan di antaranya ada yang sudah miring serta nyaris roboh.

Kami yang mengunjungi perkampungan petani derep (buruh tani membantu hasil panen sawah milik orang berpunya) dan sebagian nelayan di kawasan pesisir Kabupaten Tangerang melihat kondisi kampung yang sangat miskin.

PRIA MENGANGGUR
Kaum prianya, baik remaja, dewasa sampai orangtua, hampir seluruhnya tengah menganggur. Sehingga suasana kampung di tengah terlihat banyak kaum prianya. Ada yang mengobrol ngalor-ngidul sesamanya, namun kebanyakan para pria itu duduk memeluk dengkul di bale-bale rombeng depan rumah sambil termenung.

“Panen memang telah selesai, jadi mereka menganggur lagi,” kata Jaro Uning, tokoh warga kampung itu, Sabtu (15/3).

Kampung itu sendiri sangat kumuh dengan penataan 130-an rumah sekenanya sehingga menciptakan gang-gang berkelok-kelok. Di antara jejelan rumah, ada rumah Keluarga Ny. Tating, Ny. Imi, dan Ny. Marni yang sudah kecil juga berkondisi memprihatinkan.

Rumah itu miring, sehingga perlu ditunjang balok, atau bersandar ke rumah tetangga yang kokoh agar tidak roboh.

“Ya hidup keluarga saya memang begini,” kata Ny. Marni. Suaminya saat ini menganggur, padahal mereka punya 4 anak masih kecil-kecil. Rumahnya sendiri sudah kecil kini harus ditunjang balok dan bersandar ke rumah tetangga yang kokoh.

Ny. Imik mengaku sekeluarga terdiri dari 7 orang, suami, anak dan 3 cucu, kini harus sering mengalami makan nasi aking. Kalau sehabis panen, suami dan anaknya yang menjadi petani derep dengan mendapat upah seperlima bagian panen, maka sekeluarga baru bisa makan nasi. Tetapi 3 bulan setelah itu, mereka makan nasi aking.

BUTUH BANTUAN
“Mereka berharap pemerintah mau mendrop beras bagi warga miskin. “Setahun lalu memang ada, sekarang engga ada lagi,” tambahnya.

Ketika ditanya apakah Kades Sukadiri dan Camat Sukadiri tidak mendata dan program pendropan raskin yang dijual per kg Rp1.600. “Wah di kampung kita engga pernah ada kades dan camatnya, karena mereka tak pernah mau meninjau ke kampung ini, kalo lagi mau kampanye ma banyak jang,” tutur warga.

Diakui Jaro Uning, kehidupan warganya kini semakin menderita saja. “Kalau ada dermawan yang mau membantu tolong dibawa ke sini!”

H. Nuryadi, Ketua Umum LSM Permata Pantura yang ikut mengunjungi Kampung Gang Tali sempat menyesalkan belum adanya bantuan raskin kepada warga. “Seringkali raskin yang didapat bukannya didistribusi ke warga miskin, malah dijual ke tengkulak.” Dia pun menyesalkan, jarak kampung ini hanya 1 km dari kantor Kecamatan Sukadiri bisa tak terkontrol kemiskinannya.

UPAYA PEMKAB TIDAK MEMADAI

Atep Wahyu, Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Pemkab Tangerang ketika dikonfirmasi program-program membantu warga miskin menuturkan, pemkab terus berupaya membantu warga miskin itu. Di antara dengan mendata mereka untuk mendapat raskin.

Untuk tahun 2008 misalnya telah didata 250.485 rumahtangga miskin (RTM) untuk mendapatkan raskin per bulan 15 kg dengan harga per kg Rp 1.600.

Total permohonan pendropan yang diajukan tahun 2008 sebanyak 360.000 ton raskin ke Banten untuk didrop ke RTM-RTM itu.

Agar warga Kampung Gang Tali mendapatkan raskin ini, semestinya Camat Sukadiri harus mengajukan permohonan raskinnya ke Dinkesos, yang selanjutnya akan dilanjutkan Bulog Banten karena itu bukan tanggung jawab Dinas Kesejahteraan Sosial Pemkab Tangerang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s