Warga Mauk Tangerang Makan Hanya Sekali Sehari

TANGERANG – Ibarat tikus kelaparan di lumbung padi. Begitulah potret kehidupan warga Kecamatan Mauk, Tangerang, yang terus dililit kemiskinan di tengah tanah yang subur. Mengais rezeki sekadarnya, makan hanya untuk mengganjal perut. Wajar saja bila 49 balita dari 12 desa di daerah ini menderita gizi buruk.Potret keluarga miskin bisa dilihat di Desa Sasak, Kp. Cibenong, Kec. Mauk, Tangerang, satu dari belasan desa miskin lainnya. Kampung ini dihuni oleh keluarga miskin yang rata-rata berpenghasilan Rp10.000/hari.Rumah penduduk di daerah ini banyak yang masih berupa bilik bambu.

Padahal hamparan sawah yang ditanami padi nan subur mengelilingi perumahan mereka. “Sawah-sawah itu kebanyakan bukan punya kami, banyak yang sudah jadi milik bos yang tinggal di kota, kami cuma buruh,” kata seorang warga.

Beragam pekerjaan dilakukan warga Mauk untuk menyambung hidup. Warga banting tulang mulai dari menjadi jadi kuli panggul, penarik becak, nelayan, buruh tani dengan penghasilan paling banyak sehari Rp15.000. Uang sebesar ini untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan betul-betul harus dihemat.Sebungkus mie instan yang dimasak dibagi untuk empat anggota keluarga. “Kadang makan sekali sehari, bahkan kadang juga nggak makan.

Dua kali sehari bisa makan sudah sangat bersyukur,” kata Rukedin,46, Ketua RT 17/04 Desa Sasak. Pak RT juga hidup miskin dan sehari-hari mengais rezeki sebagai penarik becak.

Ketiga anaknya pun yang semestinya duduk di bangku SD tak ada yang sekolah lantaran tak mampu. “Duitnya dari mana buat biaya sekolah. Boro-boro sekolah, buat makan saja susah. Makan seketemunya, bisa singkong syukur-syukur nasi,” tambahnya.Bila ketemu nasi, menu tetap sehari-hari adalah kangkung rebus yang bahannya gratis ada di ladang dan ikan asin. Roti di daerah ini adalah makanan yang sangat mewah.Untuk menyambung hidup, tak sedikit warga yang ngasak atau memungut sisa-sisa padi yang baru dipanen di sawah.

GIZI BURUK
Hidup melarat memaksa pasangan Marnawi, 40, dan Mariah, 35, bersikap pasrah terhadap nasib kedua anaknya Sonia,4, dan Hasanudin, 2,5, yang sudah hampir sebulan ini tergolek lemah di atas kasur lusuhnya setelah divonis mengalami gizi buruk.Perut dua balita ini tampak membuncit, dada membusung dan tubuh kurus. Sonia juga menderita kelainan jantung. “Sonia pernah dirawat di rumah sakit, biayanya gratis pakai kartu gakin, tapi belum sembuh juga,” kata Mariah di rumah kumuh berukuran sekitar 4 x 6 meter ini.ASI Mariah nyaris kering karena kurang mengonsumsi makanan bergizi, tetapi Mariah kerap memaksa sang putra untuk menyusu kepadanya. “Dari pada rewel, kadang dipaksain biarpun keluarnya sedikit,” lirih Mariah lagi. Bahkan kerap juga Mariah hanya memberikan air putih dan makan singkong.

KETIDAK PEDULIAN RANO KARNO
Keadaan ini sudah belangsng lama, tapi belum ada perhatian dari Bupati Tangerang. “Saya tahu nama pak bupati H Ismet Iskandar dan wakilnya Rano Karno,” ucap Ny Mariah sambil menyebutkan ketika pemilihan ia dan suaminya memilih Ismet dan Rano karena janji-janji yang diberikan Rano Karno. Ia meminta kepada kedua pejabat ini meninjau daerahnya yang terhimpit kemiskinan apalagi kan Rano Karno cukup kaya menyumbangkan sedikit kekayaannya buat kami kan tidak ada salahnya.

DESA TERPENCIL
Kondisi masyarakat Kecamatan Mauk sekitar 30 km dari Kota Tangerang ini memang dibilang agak terpencil karena tidak ditunjang dengan akses jalan yang baik. “Pejabat mungkin enggan ke Mauk karena jalannya rusak bergerlombang. Kalau hujan bagaikan kubangan kerbau,” ucap Masan, warga.

Menurutnya, seharusnya Pemda Kabupaten Tangerang membangun jalan yang bagus karena ada lokasi wisata Tanjung Kait. Kalau ditempuh dari kantor bupati, kecamatan Mauk bisa mencapai sekitar 50 km.

Petugas Puskesmas Mauk mengatakan di Mauk ada 12 Desa rata-rata anak balitanya mengidap gizi buruk, seluruhnya 49 balita. Pihak Puskesmas sudah berusaha memberikan penyuluhan dan bantuan makanan kepada keluarga balita tersebut, namun masih banyak yang menderita gizi buruk.

KEMISKINAN BUKAN TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH
Program makanan tambahan yang digulirkan oleh pemerintah, ternyata tidak mampu menghapus persoalan gizi buruk. Data Depkes, penduduk yang menderita gizi buruk saat ini sekitar 4 juta orang termasuk di dalamnya balita.

“Angka ini sudah menurun dibanding tahun 2003 yang mencapai 5,1 juta jiwa,” kata Menkes Siti Fadilah Supari.

Depkes, lanjut Siti Fadilah, telah mengucurkan anggaran untuk penanganan gizi buruk senilai Rp500 miliar per tahun, 85% di antaranya langsung disalurkan ke daerah. “Jadi hanya 15% saja yang dikelola pusat, jadi ini jelas bukan tanggung jawab saya,” tambahnya.

Munculnya kasus gizi buruk apalagi berujung kematian, kata Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Farida Hatta sebenarnya tidak perlu terjadi. “Ego pemerintah, pejabat dan aparat negara telah membuat kondisi yang menimpa rakyat miskin tidak termonitor,” katanya.

Gizi buruk sendiri terjadi tidak semata-mata persoalan kekurangan makanan tetapi kekurangan makan adalah penyebab gizi buruk. Ada banyak kasus gizi buruk yang diawali dengan penyakit tertentu. Tetapi pada kasus ini adalah karena kemiskinan yang akut dan gagalnya pemerintah

Iklan

6 responses to “Warga Mauk Tangerang Makan Hanya Sekali Sehari

  1. saya adalah warga mauk yang sudah merantau di sumatera 20 yang lalu, sejak saya tinggalkan sampai sekarang kalo mudik, mauk masih seperti dulu wajahnya malah tambah buruk karena, penduduk makin padat, kriminal juga meningkat, yang jelas sawahnya nggak seperti dulu, sering gagal panen..

  2. Mengentaskan kemiskinan sesungguhnya bukanlah hanya tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tanggung jawab kita semua termasuk perusahaan-perusahaan khususnya perusahaan yang berdomisili di wilayah dimana kemiskinan itu berada.

    “Memperbesar kue kesejahteraan adalah tanggung jawab luhur perusahaan, tapi mendistribusikan kue kesejahteraan adalah tanggung jawab pemerintah” ini adalah paradigma yang semestinya sudah berubah, mendistribusikan kue kesejahteraan sudah semestinya juga menjadi tanggung jawab perusahaan. karena betapa ironisnya jika ada perusahaan yang mencari keuntungan di suatu daerah, sementara penduduk sekitar tempatan perusahaan mengalami kemiskinan.

    Corporate Social Responsibility seharusnya menjadi sarana yang tepat untuk membantu mengentaskan kemiskinan, karena sebenarnya CSR berawal dari hati dan kepedulian setiap pengusaha. jadi apabila masih adanya kemiskinan, berarti aspek moralitas dan etika belum menyentuh hati para pengusaha di tanah air.

  3. memang tapat jika ungkapan di atas, “tikus yang mati dilumbung padi” ini adalah potret buram pemerintah di negri ini. Potret buram ketidakbecusan dan ketidakpedulian Ismet dan Ir. dari Betawi (Si Doel) dalam mengayomi masyarakatnya. Kejadian yang menyedihkan di atas tidak hanya terjadi di kp Cibenong, tetapi banyak di kampung-kampung lainya di wilayah Mauk. Saya tahu itu, kerena saya penduduk asli Mauk, yang sekarang sedang merantau di negri orang, karena saya tidak ingin “mati di lumbung padi.”

  4. wahyoe djibril ramadhan

    saya pribumi mauk pendapat yang anda sampaikan tidak seperti apa yang terjadi di mauk ,opini masyarakat yang belum jelas kebenarannya jangan terlalu di besar-besarkan karena mungkin itui cuma rangkaian politik semata.
    dan jangan selalu menyalahkan pejabat setempat soal akses jalan mauk-tangerang yg rusak seharusnya kita bercermin diri soal pajak jalan yang harus kita bayar karena slruh harta ismet+rano karno pun tidak bisa mmbwt indahnya mauk bila masyarakat setempat tidak bisa mematuhi peraturan daerah setempat.
    mauk selau tentram dan damai.

  5. saya asli orang mauk dan sekarang pun msh tnggal dmauk,ya smua postngan diatas memang benar,seharusny pemerintah lebih bisa memperhatikan rakyat2 yang ada dpelosok2 daerah,jangan hanya mengumbar janji sblum berkuasa,tp jika sudah berkuasa dy lupa akan janjinya,please deh

  6. saya orang Tangerang , memang di mauk masih banyak keluarga miskin…
    entah apa saja yang sudah dilakukan oleh pemerintah kabupaten Tangerang selama ini ? sehingga masalah kemiskinan saja belum bisa di selesaikan…Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati…ayo waktu-nya untuk turun lapangan lihat kondisi rakyat-mu , banyak hal yang harus Anda lakukan untuk memperbaiki wilayah yg anda pimpin saat ini.
    Anda punya power untuk memperbaiki yg tidak baik menjadi lebih baik, jika ada yg kurang setuju dengan pendapat diatas mungkin Anda belum melihat secara jelas dan luas, kondisi yang sebenar-nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s