Anak Keluarga Miskin Semakin Sulit Mengakses Pendidikan

Jakarta – Anak dari keluarga miskin semakin terpinggirkan dalam dunia pendidikan akibat kondisi perekonomian yang terus mengimpit kalangan lemah. Pemerintah dinilai tak sensitif dalam mengantisipasi kenaikan harga berbagai bahan pokok, tarif listrik, hingga pencabutan subsidi minyak tanah.

”Gejala anak putus sekolah mulai marak itu sudah sejak tahun 2006 ketika harga BBM (bahan bakar minyak) naik. Itulah bisulnya, yang sekarang ini mulai meledak,” kata Lies Sugeng, Wakil Ketua Perhimpunan Orangtua Murid Indonesia, Selasa (18/3).

Lies mengatakan, kenaikan harga berbagai bahan pokok, diikuti tarif listrik dan minyak tanah, pada akhirnya memicu krisis di bidang lain. Bidang yang paling krusial terkena dampaknya adalah pendidikan dan kesehatan.

”Meski sekolah di negeri gratis, bagaimanapun anak tetap butuh biaya untuk ongkos, alat tulis, dan buku. Sementara bagi keluarga yang penghasilannya sehari Rp 10.000-Rp 15.000 akan lebih mementingkan untuk makan sekeluarga daripada sekolah. Jadi tidak heran fenomena putus sekolah pasti meledak seiring krisis harga bahan pokok dan minyak tanah,” kata Lies.

Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta Sylviana Murni mengatakan, di wilayah Jakarta saja terdapat 2.254 sekolah dasar negeri. Namun, SD sebanyak itu tidak diimbangi dengan jumlah sekolah menengah pertama negeri (SMPN) yang setara, yang jumlahnya hanya 288 SMPN.

”Jadi yang tidak tertampung di SMP negeri mau tak mau mencari yang swasta,” kata Sylviana.

Lies menambahkan, sering kali anak-anak dari keluarga miskin terpaksa mencari sekolah swasta karena tidak bisa tertampung di sekolah negeri. Dengan demikian, anak dari keluarga miskin itu terpaksa keluar biaya lebih besar karena sekolahnya tidak gratis.

”Banyak sekolah swasta yang dipenuhi anak-anak dari keluarga miskin. Swasta itu tidak mesti elite,” kata Lies.

Reni Edi Nuryanto (48), tukang perahu di Sungai Cisadane, Tangerang, misalnya. Ayah dari empat anak ini tak lagi sanggup membiayai sekolah anak-anaknya, yaitu Ryanto (18), Rio (16), Rica (14), dan Richard (5). Reni mengenakan tarif Rp 1.000 per penumpang untuk menyeberang.

”Penghasilan saya tak tentu, Rp 4.000 hingga Rp 8.000. Bisa beli beras seliter Rp 5.000. Kalau lebih, bisa beli lauk,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Selasa.

Reni mengaku, dengan penghasilan sejumlah itu, dia lebih mementingkan urusan perut dibandingkan pendidikan anak- anaknya.

Iklan

4 responses to “Anak Keluarga Miskin Semakin Sulit Mengakses Pendidikan

  1. Mungkin kalau menunggu pemerintah akan lama sekali, terlebih lagi mau mendekati tahun 2009, saya pikir akan lebih baik kalau diri kita baik secara sendiri atau kelompok melakukan dan terhun langsung dan saya akan mendukung hal tersebut.

  2. LSM Peduli Rakyat

    Setuju Sekali …..

  3. Untuk mengatasi masalah ini, tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah. Tetapi sangat dibutuhkan partisipasi dan kontribusi dari masyarakat yang mampu untuk menolong saudara-saudara kita yang kurang mampu.

    Mungkin dengan cara mendirikan lembaga-lembaga pendidikan informal di lingkungan kita, atau semacam pendidikan kesetaraan, Insya allah kita akan bisa menolong anak-anak yang putus sekolah ini. Ayo kita galakkan lingkungan kita untuk perduli pada pendidikan anak-anak putus sekolah.

  4. kalo dengan zakat bagaimana? Potensi zakat gede banget lho mbak dan aq rs klo smua umat bayar zakat scr jujur gak ad yg namanya kemiskinan di indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s