Tekanan Ekonomi Membuat Beberapa Ibu Membunuh Anaknya Sendiri

Tekanan ekonomi yang kian mengimpit dan ketidakpastian masa depan, menyebabkan sejumlah ibu nekat membunuh anak kandungnya sendiri. Kasus yang sudah beberapa kali terjadi ini perlu dicermati dan ditangani serius agar tidak semakin berkembang di masyarakat.

Demikian pendapat sejumlah akademisi, psikolog, sosiolog, kriminolog, dan penggiat lembaga swadaya masyarakat, Rabu (26/3), menanggapi maraknya kasus kekerasan di rumah tangga, dalam bentuk ibu membunuh anak kandungnya sendiri. Kasus terakhir terjadi di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yakni dua anak balita, Sabila Putri Khaera (3) dan Fadli Muhamad Nizan (4 bulan), ditemukan tewas di dalam bak kamar mandi, Sabtu malam pekan lalu. Sabila dan Fadli diduga dibenamkan oleh ibu kandung mereka, Ny YIY (25). Dalam keterangannya, Rabu kemarin, Ny YIY yang kondisinya masih labil mengatakan, selama empat tahun menikah dirinya tidak mendapat nafkah ekonomi yang layak.

Sebelumnya, kasus serupa terjadi di Bekasi. Diduga stress Ny Is (35), 14 Maret lalu, membunuh kedua anaknya masing-masing Aldi Rasyid (4 bulan) dan Mutiara Yusuf (2 tahun) dengan cara dibenamkan di bak mandi.

Di Kota Malang, Jawa Timur, Ny JM bunuh diri dan sebelumnya membunuh keempat anak kandungnya sendiri. Meskipun keluarga membantah, tetapi polisi menyimpulkan pembunuhan massal ini terjadi karena beban hidup dan tekanan ekonomi yang menghimpit.

Tekanan ekonomi

Kriminolog Universitas Indonesia Ronny Niti Baskara mengatakan, secara psikiatrik-kriminologik, pada tipe bebeberapa kepribadian tertentu, tekanan ekonomi yang dialami kelas bawah akan menimbulkan rasa frustrasi. Adanya hambatan dan ancaman terhadap pencapaian cita-cita serta harapan masa depan, pada gilirannya menjelma menjadi bentuk perilaku menyimpang atau kejahatan. ”Jadi, meningkatnya kekecewaan hidup seseorang diekspresikan dalam bentuk kejahatan,” ujarnya.

Ketua Persatuan Spesialis Dokter Kejiwaan Indonesia Cabang Malang dr Roekani Hadi Sepoetro SpKJ mengatakan, dalam kasus Ny JM yang membunuh keempat anaknya, hal itu merupakan reaksi dari depresi berat dengan gejala psikotik. Hal itu terlihat dari bagaimana ia membunuh anak-anak kesayangannya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia bunuh diri. Itu dilihat Roekani sebagai upaya menyelamatkan orang-orang yang dikasihinya dari tekanan perasaan dan pikiran yang membebaninya.

“Persoalan ekonomi selalu saja menjadi alasan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, kalau parah, mereka yang merasa tertekan bisa bunuh diri,” tutur Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Malang Inspektur Dua Jayanti Mandasari Harahap.

Jayanti mengatakan, di Malang setiap bulan selalu muncul kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang rata-rata penyebabnya adalah tekanan ekonomi. Dalam catatan PPA, dari Januari hingga Maret 2008 ini telah ada 35 kasus yang ditangani PPA

Psikolog Universitas Indonesia Yudiana Ratna Sari berpendapat, pembunuhan ibu terhadap anak disebabkan rendahnya pendidikan dan kemampuan ekonomi yang saling berkait satu sama lain. Menurut dia, tingkat pendidikan yang rendah membuat kepribadian orang tidak stabil. ”Orang cenderung berpikir pendek dan emosional. Mudah goyah, dan emosional, ketika merealisasikan rencana-rencananya yang sulit diwujudkan,” ujarnya.

Rendahnya tingkat pendidikan juga memengaruhi kemampuan seseorang memutar roda ekonominya. ”Orang dengan basis pendidikan dan ketrampilan rendah, tidak akan mampu melihat peluang atau alternatif memutar roda ekonominya, apalagi berpikir untuk membuat lapangan kerja. Keadaan menjadi kian buruk di tengah sempitnya lapangan kerja dan tingginya tingkat pengangguran,” lanjut Ratna.

Kaji mendalam

Sosiolog dari Universitas Indonesia Paulus Wirutomo mempunyai pendapat berbeda. Menurut dia, belum dapat dipastikan apakah sejumlah kasus pembunuhan anak oleh ibu merupakan fenomena sosial atau kasus individual.

Untuk dapat dikatakan sebagai fenomena sosial setidaknya terjadi peningkatan kasus dalam batasan waktu tertentu. ”Bisa saja secara jumlah tidak terlalu tinggi, tetapi karena kasusnya sensasional maka memunculkan pemberitaan yang besar. Namun, secara sosiologis itu sebetulnya belum menggejala,” ujarnya.

Ia menyimpulkan, kasus-kasus yang terjadi secara sporadis di sejumlah daerah tersebut secara ilmiah belum dapat dikatakan sebagai gejala sosial yang menunjukkan kondisi tertentu di masyarakat.

Akan tetapi, Paulus menekankan, harus diwaspadai jika pembunuhan itu dilatarbelakangi tekanan ekonomi. ”Kasus-kasus yang terkait dengan kemiskinan biasanya cepat meningkat dan merata,” ujarnya.

Elly Risman, psikolog sekaligus Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, menolak tegas anggapan tekanan ekonomi menjadi penyebab utama seorang ibu tega membunuh anak kandungnya sendiri.

”Ini adalah kasus kehancuran jiwa. Faktor kejiwaan si ibu melatarbelakangi tindakannya. Dengan kondisi yang demikian, si ibu kurang kesiapan untuk menjadi orangtua,” kata Elly Risman, Rabu.

Pemerintah harus bertanggung jawab

Terjadinya kasus-kasus ibu membunuh anak, menurut Paulus, merupakan suatu peringatan kepada pemerintah bahwa peningkatan kemiskinan sudah pada level sangat membahayakan masyarakat.

Pemerintah perlu segera bertindak memperbaiki ekonomi secara keseluruhan. Pada sisi lain, perlu ada kesetiakawanan sosial sehingga ada tempat bergantung bagi orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, baik itu bergantung pada keluarga, tetangga, lembaga sosial maupun pemerintah.

Program-program pengentasan kemiskinan yang dijalankan oleh Presiden SBY dan Partai Demokrat telah gagal total untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Psikolog Elly Risman berpendapat, agar kasus serupa tidak terulang kembali diharapkan masyarakat waspada. Masyarakat perlu memiliki kepekaan sosial dan saling membantu di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit.

Iklan

One response to “Tekanan Ekonomi Membuat Beberapa Ibu Membunuh Anaknya Sendiri

  1. pendapat saya masalah pembunuhan anak terhadap ibunya mestidiwaspadai terutama terhadap masayarakat
    saya kasi jalan keluar nya?
    1 jangan bikin anak banyk2
    maksimal 2 anak saja
    2.kalu mau bikin anak lihat sistemekonomi kita dulu mampungak
    3.kalu suami pengangguran jangan terlalu dimanjain
    4.kalu hidup teramat susuah biasain makan apa adanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s