Pengamen Cilik dan Pengemis Bertambah, Kemiskinan Menjadi-jadi

Perekonomian masih belum membaik disusul harga sembako yang terus melambung bangkit membuat daya beli masyarakat semakin menurun. Pengangguran pun bertambah. Imbasnya warga miskin semakin membengkak jumlahnya.

Pengemis dan gelandangan semakin banyak memenuhi setiap sudut Ibukota Jakarta. Ironisnya para gepeng tersebut didominasi kaum ibu, anak-anak dan balita. Mereka keluyuran siang malam dan tak peduli hujan angin menerpanya. Anis, 8, satu bocah perempuan yang biasa mengamen menggunakan botol kemasan plastik yang diisi pasir nampak sering beroperasi di perempatan lampu merah Harmoni.

“Saya disini ngamen, duitnya untuk makan dan jajan adek,”tuturnya. Pengamen cilik ini mengaku disuruh oleh ibunya guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan iapun tak jarang ditemani sang bunda saat beroperasi.

Rupanya sekarang sudah menjadi trend bagi para pengamen dan pengemis untuk melatih anaknya dapat mengamen dan mengemis sendiri. Habis mau cari kerja apa lagi? Hidup semakin berat dan sulit. Kami terpaksa melakukan pekerjaan ini, karena suami saya mengannggur, sementara anak-anak butuh makan,”ujar Ny, Ayu, 35, sembari menggendong anaknya.

Saban hari dia melakukan kegiatan rutin, misalnya pagi hari menjadi joki tree in one, sore dan malam harinya mengamen, bahkan mengemispun dilakukannya.

Belakangan ini hampir di setiap lampu merah, belasan pengemis dan pengamen cilik mengais mencari rejeki. Kendati sering digaruk aparat, jumlahnya tidak menyusut. “Kalau ada kerjaan lain tak mungkin kami tega nyuruh anak istri ngemis dan ngamen begitu,” ujar Rus, satu pengemis di Perempatan Cempaka Mas, Jakarta Pusat.

SANGAT PRIHATIN
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI, H. AR Nakoem dan Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI, Habib Alaydrus sangat prihatin atas kondisi maraknya gepeng di berbagai kawasan ibukota. Masalah ini menjadi pekerjaan rumah Pemda DKI untuk menanganinya.

“Kondisi ini menjadi tantangan bagi Pemda DKI, jangan sampai dibiarkan tetapi harus ditangani dengan serius dan dicarikan solusinya,” ujar Nakoem. ”Kalau mereka warga DKI harus dibina dan lebih diberdayakan sehingga kehidupannya meningkat.”

Alaydrus, berharap aparat Dinas Pembinaan Mental dan Kesejahteraan Sosial (Bintal Kesos) dan Tramtib harus meningkatkan razia terhadap keberadaan gepeng. Mereka yang terjaring harus diberi bekal pembinaan atau ketrampilan sehingga tidak mengemis lagi. “Memang kebanyakan dari mereka berasal dari luar daerah sehingga agak sulit menanganinya,” ucapnya.

Namun, apabila mereka warga DKI berarti membuktikan kalau penanganan terhadap warga miskin selama ini ada yang salah. Program PPMK yang bertujuan membantu masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat kecil jadi kurang berarti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s