Derita Rakyat Dinegara Kaya Raya Dan Kehidupan Super Mewah Para Pejabatnya

Seorang pembantu bergegas menyelesaikan pekerjaannya untuk bisa antre mendapatkan minyak tanah. Di sejumlah rumah makan kita menyaksikan hidangan tahu atau tempe dengan irisan yang lebih kecil. Di mana-mana warga naik kendaraan ibarat menumpangi kapal yang diterpa gelombang karena jalanan rusak. Tak sedikit warga yang terancam malnutrisi karena harga pangan naik.

Inilah gambaran dari sebagian warga di negara yang dinamakan Republik Indonesia, yang sarat rezeki ini. Ya, untungnya Indonesia tidak sendiri. Entah kenapa penderitaan ini dan kemiskinan ini disebut untung hanya karena tidak sendirian.

Di Mauritania, ada banyak warga yang mengurangi frekuensi makan, dari tiga kali sehari menjadi hanya sekali. Negara, yang mengimpor 70 persen kebutuhan pangan ini sedang ketiban masalah akibat kenaikan harga pangan.

Kepala Perwakilan World Food Programme (WFP) di Mauritania, Giancarlo Cirri, mengatakan, di negara ini rakyat tidak saja mengurangi konsumsi makanan, tetapi juga biaya pendidikan dan pengobatan. Bahkan, sejumlah keluarga sudah meminta anak-anaknya untuk menjadi pengemis.

Di Banglades ribuan warga antre panjang untuk mendapatkan beras bersubsidi dari pemerintah seharga Rp 3.300 atau 40 persen lebih murah dari harga pasar.

Inilah sekilas gambaran dari kaum papa di dunia yang sedang kesusahan karena kenaikan harga pangan. Ancaman pangan ini begitu mengkhawatirkan sehingga Presiden Bank Dunia Robert Zoellick meminta negara maju membantu negara termiskin yang terancam malnutrisi, lagi-lagi karena kenaikan harga.

Pangan yang dimaksud kacang polong, beras, terigu, minyak, dan lainnya. Menteri Keuangan India P Chidambaran marah kepada AS, yang mengonsumsi tumbuhan biji-bijian untuk dikonversi menjadi minyak yang bebas polusi, yang kita kenal dengan istilah biofuel.

Para pengamat mengatakan kebangkitan ekonomi China, India, Brasil, dan Rusia telah menyebabkan permintaan pangan meningkat sehingga harga naik.

Menambah kerunyaman ini, analis pasar modal mengatakan bahwa investor kaya telah berspekulasi di bursa komoditas internasional, bursa yang menawarkan transaksi maya untuk jual beli pangan. Walau secara nyata investor tersebut tidak membutuhkan pangan itu untuk dikonsumsi, mereka berlomba-berlomba menyerbu pasar dengan memasang kontrak pembelian. Tujuannya tak lain adalah menjual kontrak pembelian tersebut jika kemudian harga terdongkrak naik, melebihi harga ketika ia memasang kontrak beli.

Investor yang sedang kalut karena kekacauan bursa saham dan valuta asing memasuki bursa komoditas, dengan memainkan isu kelangkaan pangan karena konversi ke biofuel dan naiknya permintaan pangan dari China dan India.

Terjadilah kesusahan yang menimpa beberapa warga miskin di sejumlah negara berkembang akibat kelangkaan pangan disertai dengan harga yang meroket, setidaknya lebih dari 100 persen sejak tahun 2006.

Indonesia Korban Ditengah Kemajuan Karena Bodoh

Dunia kini sedang meributkan akar krisis. Salah satu hal mencuat adalah kekacauan pasar uang akibat regulasi yang longgar. Hal ini dimanfaatkan para spekulan di bursa untuk mendongkrak harga demi keuntungan pribadi tanpa memerhatikan dampak negatif dari aktivitas bisnis mereka.

Kini di AS sedang terjadi upaya penggodokan peraturan yang mengendalikan lembaga-lembaga keuangan, sesuai dengan saran George Soros, spekulan yang pernah ”membobol” Bank of England.

Namun, itu adalah urusan internasional. Kembali ke urusan domestik RI, dengan keberadaan teknokrat, atau staf-staf hingga bertitel doktor, juga ekonom, Indonesia tidak selayaknya menjadi korban dari eksternalitas itu.

Mengapa? Pertama, bukankah RI ini kita juluki negara yang gemah ripah loh jinawi? Dengan kesuburan yang tak dimiliki banyak negara, tak seharusnya rakyat kesusahan pangan. Indonesia malah seharusnya ketiban rezeki seperti Vietnam dan Thailand.

Jika lahan kita memang tak subur untuk ditanami komoditas pangan, juga tak selayaknya rakyat kekurangan pangan, apalagi kelangkaan BBM, mengalami listrik padam, dan segala derita yang sudah terjadi dalam 10 tahun terakhir ini.

Adalah ironi jika ini terjadi di tengah kekayaan sumber daya mineral yang tertanam di perut Bumi, seperti minyak, gas, serta emas, tembaga, nikel, dan lain sebagainya itu.

Gugatan tulisan ini tidak hendak memojokkan pemerintahan sekarang semata, tetapi sekadar membuka pikiran semua pihak, elite, DPR, dan mereka yang tergolong sebagai influencer.

Bagaimana bisa kita tak memiliki perencanaan pertanian yang matang? Bagaimana kita tak bisa memperkirakan kebutuhan pangan, memperkirakan gejolak pangan sehingga kita bisa terhindar dari eksternalitas yang sedang menjadi kekuatan perusak?

Bagaimana bisa kita tidak bisa seberani Venezuela, Bolivia, Rusia? Tiga negara ini telah menggusur kekuatan perusahaan multinasional, yang bertahun-tahun menikmati kekayaan energi tanpa bisa memakmurkan warga tempat ia berusaha?

Kesadaran elite, katakanlah Vladimir Putin (Perdana Menteri Rusia), Hugo Chavez (Presiden Venezuela), dan Evo Morales (Presiden Bolivia) telah mengubah status quo kontrak-kontrak migas sehingga memberi manfaat bagi rakyat.

Bisakah RI maju secara ekonomi, dengan rakyat yang relatif makmur, jika kesadaran tiga negara ini tidak kita tiru?

Ini bukan berarti hendak mengabaikan pencapaian yang didapat, yakni kemakmuran yang diraih segelintir orang, lengkap dengan mobil, rumah mewah, serta simpanan miliaran dollar AS di luar negeri seperti disinyalir Merrill Lynch. Namun, janganlah kemilau pembangunan di Jakarta dan sekitarnya membuat kita lupa akan keadaan faktual yang menimpa rakyat.

Ada banyak warga RI yang harus menyambung nyawa dengan terpaksa mengais di Malaysia, Timur Tengah, dan negara lain. Jika kita memang mampu memberi mereka kehidupan adalah hal yang mustahil bagi jutaan warga mengungsi ke negara lain agar tidak nestapa di dalam negeri sendiri.

Taruhannya bukan saja risiko warga disiksa, dipukuli seperti yang menimpa sejumlah warga RI di Malaysia. Taruhannya adalah kehormatan dan harga diri bangsa, yang menjadi keprihatinan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Lagi, ini bukan hanya hardikan bagi elite pemerintahan, tetapi juga DPR yang menyatakan diri sebagai wakil rakyat. DPR yang menikmati uang laptop, uang hadir, uang ini dan uang itu juga menjadi bagian lembaga yang diharapkan memikirkan masa depan bangsa.

Jika kita eling lan waspodo, sebagaimana sering diutarakan oleh almarhum mantan Presiden Soeharto, rezim otoriter yang menjadi penyebab utama krisis berkelanjutan di Indonesia, ke depan negara Indonesia akan menghadapi era kejayaan. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sudah mengatakan bahwa Indonesia punya prospek pada tahun 2030 tetapi bangsa Indonesia dan Para pemimpinnya lebih banyak bicara dan mengeluarkan jargon daripada bertindak.

Namun, semuanya harus dimulai dengan bergegas dari sekarang sehingga Indonesia menjadi bagian dari Benua Asia, yang kini menikmati kepemilikan atas abad ke-21.

Retorika yang manis, penampilan yang necis dengan kalimat yang terpadu indah hanya akan terasa indah dan nikmat jika rakyat menjalani hidup yang normal, alias tidak terancam pangan, anak-anak tidak terancam putus sekolah dan tidak mati karena sakit yang tak bisa diobati karena tidak ada uang.

Iklan

2 responses to “Derita Rakyat Dinegara Kaya Raya Dan Kehidupan Super Mewah Para Pejabatnya

  1. Dimulai dari sekarang, dimulai dari yang paling kecil, dimulai dari diri kita…Andaikan semua orang peduli.

  2. semua orang harus peduli hal ini ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s