Rakyat Kecil Menjerit Karena Gas Elpiji Bersubsidi Hilang Dipasaran. Setelah Minyak Tanah Bersubsidi Dipakai Industri Kini Gas Elpiji Bersubsidi Digunakan Oleh Restoran Kelas Atas

Krisis elpiji tampaknya kian melebar. Menyusul langkanya tabung gas elpiji isi 12 kg di pasaran, maka tabung 3 kg yang mestinya jatah rakyat miskin ikut diserobot.

“Saya terpaksa membeli gas ukuran 3 kilogram 5 tabung sekaligus gara-gara yang ukuran 12 kilo susah dicari,” kata Siswanto tukang las di Jalan Tipar Cakung, Jakarta Utara, kemarin.

Akibat banyaknya pihak yang menggunakan tabung ukuran 3 kg warga kurang mampu jadi ikut kebingungan. Sebab, di warung-warung persediaannya jadi sering habis.

“Kami jadi bingung. Gas ukuran 3 kilogram jadi sering habis gara-gara ada yang borong,” kata Ny. Husna warga Semper Barat.

Hasanudin agen penjualan gas di Jalan Sungai Kampar, Semper Barat mengakui sudah sekitar sebulan ini agak kesulitan memperoleh pasokan gas ukuran 12 kilogram. Dia mengaku tidak tahu alasan seretnya pasokan gas tersebut.

KESULITAN
Memang ada pula wilayah yang tidak mengalami kesulitan memperoleh gas. Seperti diungkapkan Ny. Rosmawati warga Jalan Mayang Sari 2 Kelurahan Tugu Utara yang mengaku belum mengalami kesulitan memperoleh gas ukuran 12 kilogram.

Sulitnya mendapatkan gas ukuran kg juga dialami warga Jakarta Selatan. Sejumlah pengecer di Cilandak mengaku mulai mengalami kesulitan mendapatkan gas elpiji ukuran tersebut. Sebagian besar pengecer dan konsumen akhirnya mencari gas ukuran 3 kg.

“Selain harga juga sudah mencapai Rp 55 ribu untuk gas ukuran 12 kg kini pengecer dan pedagang yang biasa menyetok gas tersebut susah diperoleh,” kata Ny. Dewi, warga Kebayoran Baru.

Dudung, pengecer gas elpiji di Pasar Blok A, Kebayoran Baru, mengatakan pengiriman gas 12 kg ke agen memang agak terlambat dari distributor. Jadi bukan pedagang yang menimbun.

DOSA PEMERINTAH
Kisruhnya masalah gas elpiji belakangan ini tidak lepas dari dosa pemerintah karena tidak mengambil keputusan politik yang jelas terhadap keberadaan elpiji 12 kg. “Seharusnya ada keputusan politik dari pemerintah yang menyatakan elpiji 12 kg untuk rumah tangga dan usaha kecil yang penggunaannya hanya memasak seperti Perpres No 55 tentang minyak tanah,” ungkap Sofyano Z, Sekjen Komite Indonesia untuk Pengawasan dan Penghematan Energi (Kipper).

Dengan demikian, kelompok usaha seperti industri, hotel dan restoran hanya dibolehkan menggunakan gas elpiji ukuran 50 kilogram. Tidak boleh memburu elpiji 12 kg yang harganya lebih murah karena disubsidi Pertamina.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s