Hentikan Berharap Pada Pemerintah, Wirausaha Adalah Pemecahan Masalah Kemiskinan

Ruangan 2 meter x 4 meter itu dipenuhi tumpukan boneka penguin pesanan suatu perusahaan asuransi. Ela dan empat pekerjanya sedang sibuk menjahit dan mengisi kapas ke badan boneka tersebut. Dalam tiga minggu, pesanan itu harus selesai.

Begitulah kesibukan Ela (35), warga Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Di ruang sempit itu, ia mencari nafkah dengan membuat boneka pesanan perusahaan atau dijual kepada pedagang kaki lima.

Semula Ela adalah pekerja di perusahaan pembuat boneka. Upahnya sangat minim dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Tahun 2003, ia nekat memilih berusaha sendiri. Dengan modal Rp 2,5 juta hasil tabungan dan pinjam sana-sini, ia membeli empat mesin jahit dan memulai usahanya. Usahanya ternyata bergerak maju.

Tahun 2006, ia mengambil pinjaman dana dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Amaliah Jaya yang ada di Kelurahan Pekayon Jaya. ”Saya ambil Rp 1 juta dua kali. Ya, untuk membeli bahan-bahan boneka seperti kapas,” kata Ela. Dengan pinjaman itu, ia bisa melanjutkan usahanya. Hingga kini ia tetap bekerja seperti ”buruh jahit” suatu perusahaan pembuat boneka. Untuk ongkos jahit dan memasukkan kapas satu boneka, Ela mendapat Rp 5.000 per boneka.

”Pengen, sih, terima orderan langsung, tetapi modalnya bisa sampai Rp 20 juta,” kata Mansur (33), suami Ela.

Tak hanya Ela dan suaminya, beberapa pedagang bakso secara berkelompok juga mendapat suntikan modal dari BKM. Dana itu umumnya digunakan untuk membeli gerobak dan perlengkapan berjualan bakso keliling.

Suntikan dana awalnya tidak besar. Kadang hanya berkisar Rp 1 juta. Namun, jika pengembalian lancar, mereka akan mendapat dana lebih besar untuk mengembangkan usahanya.

Kemauan keras

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri melalui BKM di seluruh Indonesia menyiapkan dana tidak sedikit untuk tahun 2008, yakni Rp 15 triliun untuk 5.720 kecamatan se-Indonesia. Artinya, setiap kecamatan rata-rata mendapat Rp 2,6 miliar.

Namun, PNPM ini membutuhkan kemauan keras dari warga yang benar-benar ingin keluar dari jerat kemiskinan, yakni dengan sungguh-sungguh membuat program yang jelas, secara perseorangan atau kelompok melalui kelompok swadaya masyarakat, dengan menciptakan lapangan kerja sendiri. Ini jelas memerlukan kreativitas dan disiplin diri.

Saat 28 peserta Temu Nasional PNPM Mandiri datang ke Pekayon Jaya, Bekasi, mereka belajar banyak dari BKM Amaliah Jaya. Pada tahun 1999, saat masih bernama Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan, dana awal yang mereka terima Rp 1,25 miliar. Pada Juni 2007 dana berkembang menjadi Rp 5,916 miliar, sedangkan piutang di masyarakat ada sekitar Rp 1 miliar.

”Dana kami gulirkan untuk ekonomi produktif bagi 2.641 keluarga di lingkungan Kelurahan Pekayon Jaya,” kata Koordinator Pimpinan Kolektif BKM Amaliah Jaya H Misin.

Keluarga penerima kredit yang ada di Pekayon Jaya pada umumnya adalah pedagang kelontong, pedagang sayur, dan pedagang bakso keliling. Selain itu, ada usaha konveksi, pembuat boneka, dan pembuat kasur.

Besaran pinjaman yang diberikan Rp 500.000 hingga Rp 3 juta, tergantung dari jenis usaha yang dilakukan dan kelancaran pengembalian. Kalau pinjaman pertama lancar, pinjaman yang lebih besar akan diberikan.

9 kelurahan

Para peserta Temu Nasional PNPM pada 28-30 April 2008 dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk kunjungan lapangan ke sembilan BKM di sembilan kelurahan di wilayah Depok, Bekasi, dan Tangerang.

Melalui kunjungan ke beberapa BKM ini, para peserta bisa belajar dari situ bagaimana mengelola BKM masing-masing, bagaimana mendampingi kelompok masyarakat agar dapat mengembangkan usahanya, serta mendapat penghasilan dari kegiatan tersebut.

Tidak semua peserta bisa langsung berhasil. Banyak pula peserta yang gagal dan harus jatuh bangun. Namun, mengambil falsafah bayi yang sedang belajar berjalan, sekali jatuh bukan alasan untuk kapok dan berhenti melangkah.

Justru mengibaratkan bayi yang tak pernah kapok untuk belajar berjalan sehingga bisa berlari, peserta terus terpacu semangatnya. Melalui kerja keras, keuletan, dan kejujuran, akhirnya banyak peserta yang berhasil dalam berwirausaha.

Melalui kegiatan-kegiatan kecil, kreatif, dengan ketekunan dan kerja keras, bukan mustahil suatu saat masyarakat Indonesia yang tadinya miskin bisa keluar dari jerat kemiskinan. Apalagi bila aktivitas yang akan dilakukan itu berasal dari ide-ide masyarakat itu sendiri, baik perorangan maupun kelompok.

Semoga saja dana 2008 sebesar Rp 15 triliun dipakai secara efektif dan bijaksana sehingga bisa membawa manfaat bagi mereka yang miskin….

Iklan

One response to “Hentikan Berharap Pada Pemerintah, Wirausaha Adalah Pemecahan Masalah Kemiskinan

  1. huaa… berguna banget infonya… makasih ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s