Monthly Archives: Juli 2008

Aroma Kebaikan Sentuh Ratusan Janda Miskin

Ratusan perempuan miskin, termasuk mereka yang berstatus janda, berkumpul di depan Kantor Desa Rawarengas, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Selasa (29/7) pagi.

Mereka berkumpul untuk mendapatkan bantuan paket pangan dari PT Indosentra Pelangi, anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang memproduksi sirop.

Kepala Desa Rawarengas, M Ingkil, menyatakan, warga desanya memang butuh bantuan. Sebagian besar dari 12.096 penduduk Rawarengas miskin. Sebanyak 380 di antaranya adalah janda. ”Desa kami berada di balik pagar Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tetapi desa kami minus. Banyak warga miskin,” tuturnya.

Menurut Lilis Fauziah, bidan yang bertugas di desa itu, sekitar 80 anak kurang gizi, 40 anak di antaranya menderita gizi buruk. ”Mereka benar-benar kurang makan,” tutur Lilis.

Dana Rp 1,2 miliar

Program yang bekerja sama dengan Rumah Zakat ini disebut Berbagi Aroma Kebaikan. ”Kami menyisihkan Rp 100 dari setiap penjualan satu botol sirop Indofood untuk kami bagikan kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung,” kata Sulianto Pratama, Direktur Utama PT Indosentra Pelangi, dalam sambutannya.

Program ini berlangsung Juli-Oktober 2008. Program ini telah menghimpun dana Rp 1,2 miliar. Dana tersebut akan dibagikan kepada 9.200 janda kurang mampu dan kaum miskin. Menurut Wakil Kepala Divisi Corporate Public Relations Indofood Frans A Toisuta, pembagian paket pangan di Rawarengas merupakan tahap pertama.

Iklan

Kekeringan Mengancam Pertanian Indonesia Yang Hanya 18 Persen Saja Diairi Irigasi Waduk

Ancaman kekeringan yang melanda sawah tahun ini akan terus meluas seiring datangnya kemarau, apalagi saat ini hanya sekitar 18 persen lahan pertanian sawah di Indonesia yang mendapat jaminan pasokan air waduk.

Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir, Senin (28/7) di Jakarta, sebagian besar lahan pertanian beririgasi mendapat pasokan air sungai yang bukan berasal dari waduk. Lahan sawah inilah yang berpotensi mengalami kekeringan meluas.

Apalagi, disparitas debit air sungai saat kemarau dan hujan sangat tajam. Hal ini semakin menegaskan, suplai air irigasi yang tidak berasal dari waduk menipis. Begitu pula sawah yang irigasinya dijamin waduk juga mengalami kekeringan akibat debit air waduk menyusut sebagai dampak pendangkalan dan minimnya suplai air.

Berdasarkan data Departemen Pertanian, luas lahan sawah sekitar 7,6 juta hektar (ha). Dari luasan itu sekitar 2,1 juta ha lahan beririgasi teknis, 1,03 juta ha beririgasi setengah teknis, 1,32 juta ha irigasi desa atau sederhana. Selebihnya sekitar 3,15 juta ha lahan pertanian tadah hujan, pasang surut, dan jenis lahan lain.

Menurut Winarno, dari sekitar 5 juta ha sawah beririgasi hanya ada 899.000 ha yang mendapat pasokan air waduk. Selebihnya mengandalkan air irigasi desa dan semiteknis yang bersumber dari nonwaduk.

Adapun menurut Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Deptan Ati Wasiati, luas lahan pertanian yang kekeringan pada periode Januari-28 Juli 2008 mencapai 182.995 ha. Dari luasan lahan yang dilanda kekeringan itu hanya 16.475 ha yang puso.

Winarno menjelaskan, dampak buruk bagi produksi pangan akibat kekeringan tidak hanya menimpa tanaman yang puso, tetapi juga padi yang tidak puso karena padi yang kekurangan air saat mulai pengisian bulir berakibat hampa.

Dengan rata-rata penurunan produktivitas 2 ton GKG per ha saja, luas lahan yang kekeringan 182.995 ha mengakibatkan potensi kehilangan produksi padi 365.990 ton GKG atau setara 237.000 ton beras. Ini setara dengan Rp 1,43 miliar, dengan catatan harga beras Rp 5.000 per kilogram.

Komitmen pemerintah

Di Palembang, saat mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Pertanian Anton Apriyantono memastikan, pemerintah telah mencanangkan program jangka panjang untuk menghadapi kekeringan setiap musim kemarau agar tidak mengganggu pertanian. Program itu dilaksanakan, antara lain, dengan menjaga hutan agar tidak gundul, memperbaiki daerah aliran sungai, serta memperbaiki irigasi dan waduk.

”Pemerintah selalu memperbaiki irigasi dan waduk. Tetapi, wilayah Indonesia terlalu luas sehingga perbaikan butuh biaya yang relatif besar,” ujar Anton.

Menurut Anton, bahkan anggaran PU pada untuk perbaikan irigasi pada tahun ini mencapai Rp 9 triliun. Jumlah itu jauh lebih besar dari seluruh anggaran Deptan saat ini.

Terkait hal di atas, Deputi Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah memperhitungkan kebutuhan dana untuk membangun infrastruktur air yang bisa mengairi seluruh lahan pertanian di sepanjang pantai utara Jawa meningkat dari Rp 70 triliun menjadi Rp 100 triliun. Ini karena untuk mengembalikan Indonesia ke kondisi swasembada pangan, diperlukan investasi lebih besar pada sektor pengairan.

”Tahun lalu, penghitungan investasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan tanaman pangan mencapai Rp 70 triliun. Itu dibutuhkan untuk reinvestasi infrastruktur, irigasi, dan pengairan agar kembali ke posisi swasembada tahun 1985. Namun, perhitungan terakhir, angkanya meningkat menjadi Rp 90 triliun-Rp 100 triliun,” ujar Bayu

172 Warga Lembah Kamuu di Papua Meninggal karena Kolera Tanpa Perhatian Pemerintah

Sebanyak 172 orang dewasa dan anak-anak meninggal akibat kolera di Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, sepanjang April hingga 21 Juli 2008. Sejauh ini belum tampak langkah nyata dari pemerintah setempat untuk mengatasi hal tersebut.

Hal itu diungkapkan Kepala Biro Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Kemah Injili Gereja Masehi Indonesia Pendeta Benny Giay, Ketua KPKC Sinode Gereja Kristen Injili Pendeta Dora Balubun, Direktur Sekretariat Keadilan Perdamaian (SKP) Keuskupan Jayapura Fr Saul Wanimbo Pr, serta Direktur SKP Keuskupan Timika Br Budi Hermawan OFM, Senin (28/7) di Jayapura.

Benny Giay mengatakan, penyakit itu menyebar di 17 kampung pada dua distrik di Lembah Kamuu dan dua kampung di satu distrik di Paniai. Lembah Kamuu yang semula masuk Kabupaten Nabire kini masuk Kabupaten Dogiyai setelah pemekarannya diresmikan akhir Juni lalu.

Para pemimpin agama itu menyayangkan Pemerintah Kabupaten Nabire, selaku kabupaten induk, dan Pemerintah Provinsi Papua yang belum melakukan tindakan nyata dalam menangani kasus tersebut.

Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur Jayapura, Dr Neles Tebay Pr, mengatakan, saat ini masyarakat marah dan curiga ada unsur kesengajaan pemerintah untuk membiarkan penyakit itu agar masyarakat asli meninggal. Amarah warga diwujudkan dengan perusakan dan pembakaran kios pendatang di Moanemani.

Budi Hermawan mengatakan, gereja menerjunkan tim medis Yayasan Caritas Timika ke lokasi. Dokter yayasan melaporkan, warga terkena diare dan kolera. Namun, terbatasnya kemampuan sumber daya dan biaya membuat penyakit itu belum teratasi.

Permintaan pihak gereja untuk bertemu Gubernur Barnabas Suebu untuk melaporkan hal itu belum bisa terlaksana karena gubernur dan wakil gubernur sedang turun kampung.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Bagus Sukaswara yang berada di Boven Digul mendampingi gubernur turun kampung saat dihubungi menyatakan, pihaknya telah menurunkan tim beberapa kali untuk menangani kasus tersebut sejak akhir April.

Departemen Kesehatan juga turun ke lapangan untuk mengevaluasi dinas kesehatan dalam menangani masalah tersebut. Bagus Sukaswara tidak merinci hasilnya karena belum mendapatkan laporan.

Selamat Menempuh Hidup Baru Adinda Bakrie Ucap Korban Lumpur Lapindo Untuk Menyambut Pesta Pernikahan Keponakan Abu Rizal Bakrie Yang Super Mewah Dengan Menghadirkan Penyanyi Sting

Bila tidak ada aral melintang, Adinda Bakrie, keponakan orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes, Aburizal Bakrie, akan melangsungkan pernikahan dengan Seng-Hoo Ong di Hotel Mulia Jakarta, Jumat (25/7).

Sejumlah media memberitakan rencana pernikahan yang dikabarkan menelan biaya hingga miliaran rupiah tersebut. Kabar yang dilansir Warta Kota adalah biaya pernikahan yang mencapai Rp 10 miliar. Untuk belanja bunga saja menghabiskan biaya Rp 1 miliar, bahkan mahkota yang dikenakan Adinda berharga Rp 3 miliar. Tentu saja hal ini dibantah. Juru bicara keluarga Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa, menyatakan bahwa kabar soal pesta mewah itu hanya untuk menjelek-jelekkan keluarga Bakrie saja.

Sementara itu, sepupu Adinda, Anindya Novyan Bakrie, memilih no comment ketika ditanya Kompas.com. “Saya no comment deh,” tutur Anindya.

Menurutnya, apa pun yang ia katakan mengenai seputar pernikahan Adinda akan menjadi polemik.  “Yang jelas, pernikahan adalah hal yang sakral dan merupakan hal pribadi dan internal bagi setiap keluarga,” tutur anak pertama Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie ini.

Ucapan selamat kepada Adinda pun berdatangan, di antaranya dari warga Desa Porong. “Semoga kedua mempelai berbahagia,” kata Ketua Tim 16 Lumpur Lapindo Sulassono ketika dihubungi, Jumat (25/7).

Dia menganggap wajar jika keluarga Bakrie mengadakan acara pernikahan besar-besaran. Namun, dia tetap berharap keluarga Bakrie tetap memerhatikan korban Lapindo. “Sebagai orang terkaya Indonesia, sebaiknya keluarga Bakrie tetap bisa bersikap seimbang supaya citranya tidak buruk di mata korban Lapindo,” katanya.

Ucapan selamat juga disampaikan oleh Ketua Korban Lumpur Lapindo Jatirejo Askur. Menurut Askur, keluarga Bakrie harus tetap memberikan perhatian kepada korban lumpur. “Korban di Jatirejo sedang ambradul karena bulan Agustus ini rumah kontrakan yang kami tinggali akan segera habis masa kontraknya,” katanya.

PENGAMANAN EKSTRA KETAT PERNIKAHAN ADINDA BAKRIE
Resepsi pernikahan Seng Hoo Ong dan Adinda Bakrie, keponakan Aburizal Bakrie, di Hotel Mulia, Jumat (25/7) malam, berlangsung mewah dan meriah.

Sejumlah pejabat termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla , kolega dan artis tampak hadir dalam acara tersebut. Ratusan karangan bunga a.l. dari mantan Presiden Megawati, Menteri Perhubungan Djusman Syafii Djamal dan pejabat lainnya tampak menghiasi pintu masuk Ball Room, Hotel Mulia.

Kemewahan nampak terlihat dari kerlap-kerlip hiasan lampu yang sengaja didesain khusus bak resepsi kerajaan Inggris, mobil pengantin Mercy hitam mewah lengkap dengan hiasan bunga terparkir di pintu masuk Ball Room Hotel Mulia.

Ribuan bunga menghampar dari pintu masuk hingga ke pelaminan serta alunan musik yang mencirikan pesta kalangan ala barat.

Dikabarkan pesta keluarga mantan pemilik PT Lapindo Brantas tersebut menelan biaya hingga miliaran rupiah. Padahal menurut pengakuan warga korban Lumpur Lapindo di Sidoarjo,, kerugian materil hingga kini belum terbayar lunas.

PENGAMATAN KETAT
Sebagian besar ratusan tamu undangan tersebut masuk dari pintu samping kanan, dibandingkan pintu masuk utama tempat resepsi itu digelar. Pengamanan begitu ketat sekitar hotel, termasuk ruang parkir. Sejumlah wartawan media cetak maupun elektronik juga dilarang masuk lantaran keluarga Bakrie yang terkaya di Indonesia itu khawatir kehidupan pribadinya terekspos publik.

Selain itu juga resepsi pernikahan yang begitu megah dan super ketat itu dihadiri para selebritis papan atas seperti, Farhan dan Ivy Batistuta.” Maaf saya sedang sibuk membantu kedua mempelai,” ucap Farhan ketika hendak diwawancarai oleh Pos Kota.

PENJABAT HADIRI PERNIKAHAN ADINDA BAKRIE
Pernikahan Adinda Bakrie-Seng Hoo Ong di Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, Jumat (25/7) malam, dihadiri para pejabat pemerintahan. Mulai dari Wakil Presiden Jusuf Kallah hingga sejumlah menteri. Para pengusaha turut menghadiri resepsi pernikahan keponakan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie ini.

Pernikahan ini menyita banyak perhatian mengingat Adinda adalah putri bungsu Indra Bakrie, pemegang saham PT Lapindo Brantas. Yakni perusahaan yang terkenal dengan kasus semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur. Apalagi, beredar kabar pesta pernikahan ini menghabiskan biaya hingga puluhan miliaran rupiah. Namun, hal itu dibantah Lalu mara Satria Wangsa, juru bicara keluarga Bakrie.

Resepsi pernikahan berlangsung dengan menggunakan adat lampung, sesuai dengan daerah asal sang kakek. Adidnda mengenakan kebaya rancangan Eddy Betty, perancang Ibu Kota.

Adinda adalah lulusan Babson College Amerika Serikat. Sementara Seng Hoo Ong adalah teman kuliahnya yang kini mulai terjun sebagai pengusaha. Akad nikah pasangan ini telah berlangsung 23 Juli silam dan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara pesta bagi rekan-rekan dekat mempelai dikabarkan akan digelar di villa keluarga di Bali beberapa hari mendatang

PERNIKAHAN TERMAHAL DAN TERHEBOH DI INDONESIA
Boleh jadi ini merupakan pernikahan termahal di Indonesia. Hari ini,keponakan Menko Kesra Aburizal Bakrie, Adinda Bakrie, menikah dengan Seng-Hoo Ong, seorang warga negara Singapura.

Konon, katanya, biaya pernikahan ini diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Tapi, kebenaran biaya itu serta merta dibantah keras oleh pihak keluarga Bakrie.

Adinda Bakrie adalah anak Indra Bakrie, adik Ical, sapaan akrab Aburizal Bakrie. Indra merupakan salah seorang pemegang saham di PT Lapindo Brantas yang salah satu sumurnya di Porong, Sidoarjo, memuntahkan lumpur yang belum juga berhenti.

Pernikahan yang digelar di Hotel Mulia ini disebut-sebut menggunakan jasa florist dan event designer terkenal dunia, Preston Bailey. Miliarder dunia, Donald Trump, pernah memakai jasa Bailey saat menyelenggarakan sebuah pesta. Pengisi acaranya musisi kelas dunia, Sting dan grup vokal Il Divo.

Tak tanggung-tanggung, kabarnya biaya pernikahannya menelan sekitar Rp 10 miliar. Ini termasuk belanja bunga saja sebesar Rp 1 miliar. Bahkan mahkota yang nanti dikenakan Adinda berharga Rp 3 miliar yang merupakan hadiah dari ayahnya.

Komentar miring atas kemewahan ini datang dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) yang membandingkannya dengan penderitaan masyarakat di Porong. Walhi melancarkan protes di depan Kantor Menkokesra, Rabu, 23/7.

Biaya Pernikahan yang Selangit ?

Kabar yang mengatakan, kalau pernikahan Adinda menelan biaya puluhan milyar rupiah itu dibantah oleh juru bicara keluarga Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa.

” Benar, pernikahan itu akan diselenggarakan tanggal 25 Juli 2008. Tetapi tidak benar kalau biayanya sampai puluhan miliar rupiah. Nggak benar itu,” ucapnya.

Menurut Lalu, akad nikah dilakukan di rumah Indra di Kuningan, Jakarta Selatan, sementara resepsinya di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta Pusat.

“Pernikahannya biasa saja kok. Tidak ada yang berlebihan. Lazimnya orang yang merayakan resepsi pernikahan. Kan, semua kalangan juga menggelar resepsi nikah di Hotel Mulia,” ujar Lalu.

Lalu juga membantah kabar bahwa keluarga Bakrie mendatangkan musisi kelas dunia dan menggunakan event designer kenamaan.

“Ah, itu kerjaan orang yang ingin menjelek-jelekkan keluarga Bakrie saja. Menikah itu kan kewajiban agama. Siapa sih orangtua yang tidak bahagia jika anaknya menikah. Ini kan wajar saja kalau menikahkan lalu mengundang kerabat dan sahabat,” katanya.

Adinda Bakrie sendiri saat ditanya tentang kontroversi biaya pernikahannya mengaku sangat sedih sekali.

“Pernikahan saya digosipkan macam-macam. Padahal tidak demikian,” ujarnya saat ditemui dalam sebuah peragaan busana di Blok M.

Perempuan cantik ini pun mengaku harus bersabar menghadapi tudingan bahwa biaya pernikahannya setinggi langit. Lulusan Babson College, Massachusetts, Amerika Serikat, ini menyebutkan acara pernikahannya punya tujuan sosial.

“Justru 20 persen dari biaya pernikahan bakal disumbangkan bagi yang kurang mampu,” katanya.

Adinda Bakrie
Adinda Bakrie
Di situs resmi Sampoerna Foundation, yayasan yang membantu pembiayaan pendidikan, Adinda Bakrie tercantum sebagai penyumbang. Karena itu ia concern terhadap dunia pendidikan.

Adinda menyebutkan 2.500-3.000 undangan diperuntukkan kerabat, kawan, dan kolega keluarga besarnya. Sedangkan acara bersama teman dekatnya berlangsung di Bali, dua pekan setelah resepsi.

“Jumlahnya tidak banyak, hanya 250 orang, terdiri atas teman sekolah dan kuliah, biar sekalian kumpul bersama,” ucapnya.

Untuk menyenangkan orangtua dan mertuanya, Adinda berencana mengenakan busana rancangan Eddy Betty, yang mencerminkan gaya Lampung (mewakili ayah), Sunda (ibunya), serta Tiongkok (pihak suami).

Untuk pesta di Bali, Adinda mengenakan gaun internasional karya perancang asing. Menjelang pernikahan, teman karib artis Dian Sastrowardoyo ini rajin berdoa.

“Setiap shalat saya berdoa meminta semua berjalan lancar. Mohon doa restunya ya,” ucapnya.

Who Is Adinda Bakrie ?

Siapa sebenarnya Adinda Bakrie ?

Adinda Bakrie adalah putri bungsu Indra Bakrie dan Dotty Suraida. Adinda memiliki saudara, yakni Eda Bakrie dan Intania Bakrie. Orangtua Adinda berpisah. Kini, Indra Bakrie beristrikan Gaby Bakrie (dulu sebelum menikah memakai nama Gaby Djorghi). Sementara ibu kandungnya, Dotty Suraida, menikah lagi dengan Arwin Rasyid.

Arwin adalah bankir senior yang telah malang melintang di dunia perbankan di mana sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) Bank Danamon serta Dirut Telkom. Saat ini Arwin ditunjuk untuk memimpin bank hasil merger PT Bank CIMB Niaga Tbk (Bank Niaga) dan PT Bank Lippo Tbk.

Adinda sendiri kini termasuk dalam sosialita (kalangan atas) di negeri ini. Teman-temannya sesama kalangan sosialita, antara lain Manohara Pinot, Janna K Soekasah, Amanda Soekasah, Indah Saugi, Elsa Kurniawan, Vashty Soegomo, Wulan Guritno, DianSastrowardoyo, Renny Sutiyoso, Kiki Utara, Ronald Liem, Rachmat Harsono, Livia Prananto, Fitria Yusuf, Tirza Tabitha, Jessica Nathalie, dan Ermanda Saskia Siregar.

Untuk urusan pendidikan, Adinda cukup cerdas. Ia lulus dengan gelar magna cumlaude dari sekolah bisnis terkemuka, Babson College, Massachusetts, Amerika Serikat.

la hanya ‘terpeleset’ beberapa poin sehingga tidak mendapat gelar summa cumlaude, gelar tertinggi.

Kabarnya, setelah lulus Adinda diterima bekerja di Morgan Stanley, lembaga keuangan bergengsi di Amerika Serikat yang berkedudukan di New York. Namun, ia kemudian memilih untuk kembali pulang ke tanah kelahirannya, Indonesia.

Di sebuah milis di internet, salah seorang peserta milis mengungkapkan bahwa Adinda termasuk orang yang taat beribadah.

Adinda Bakrie dan teman-teman
Adinda Bakrie dan teman-teman
“Dia (Adinda) agamanya kuat. Saya pernah berkunjung ke tempat dia dan sepupunya tinggal di Boston. Saya kaget melihat di setiap ruangan di kamarnya terbentang sajadah mengarah ke kiblat, lengkap dengan lipatan sarung dan mukena di tempat tidur. Bagi saya, itu menandakan dia itu taat beribadah,” ujar peserta milis itu.

Sementara itu, hampir sama dengan Adinda, tak banyak keterangan siapa sebenarnya caIon suami Adinda Bakrie, Seng Hoo Ong.

Berdasarkan penelusuran di internet, melalui milis-milis yang beredar diketahui bahwa Seng-Hoo Ong adalah warga negara Singapura.

Di situs pertemanan Friendster, tertulis keterangan bahwa pria jangkung ini berusia 31 tahun. Seng bekerja di Lazard Freres, Central Proteinamira. Seng dan Adinda sama-sama lulusan Babson College, Massachusetts, Amerika Serikat

WALHI PROTES PERNIKAHAN ADINDA BAKRIE KARENA KASIHAN
Pesta perkawinan mewah salah satu anggota keluarga Bakrie diprotes oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Sebab kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, yang melibatkan grup Bakrie belum juga tuntas.

Menanggapi hal itu, keluarga Bakrie enggan berkomentar banyak. “Soal itu saya enggak mau ngomong. Orang menikah itu soal kewajiban agama,” kata juru bicara keluarga Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa.

Hal itu dikatakan Lalu Mara yang juga menjabat sebagai staf khusus Menko Kesra Aburizal Bakrie saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (23/7/2008).

Namun, Lalu Mara membenarkan Adinda Bakrie, putri Indra Bakrie, mantan pemilik saham PT Lapindo Brantas akan menikah pada Jumat 25 Juli 2008 mendatang. Pernikahan keponakan Aburizal itu akan digelar di Hotel Sahid, Jakarta.

Mengenai aksi yang dilakukan Walhi di depan kantor Menko Kesra, Lalu Mara mengatakan, aktivis Walhi tidak menyingung-nyinggung pernikahan Adinda. Aksi itu adalah aksi solidaritas terhadap anak-anak korban lumpur Sidoarjo.

“Tadi topiknya soal hari anak, terus soal anak-anak di Porong (Sidoarjo),” kata Lalu Mara.

Sebelumnya, koordinator aksi Walhi M Teguh Surya memprotes pernikahan Adinda saat melakukan aksi di kantor Menko Kesra sekitar pukul 11.00 WIB.

“Pernikahan itu kabarnya menghabiskan dana sekitar 2 digit miliar rupiah. Sementara ribuan orang menghirup gas metan di Sidoarjo,” kata M Teguh kepada wartawan

400 Ribu Anak Miskin Terlantar Setiap Tahun Menjadi Tukang Loper Koran

Hingga tahun 2008, sekurangnya 400.000 anak terlantar di Indonesia menjadi loper koran di jalan untuk mendapat penghasilan tambahan. Panitia Hari Anak Nasional Departemen Sosial Kiki Riyadi dalam jumpa pers Lopers Day 2008 di Jakarta, Kamis (24/7) menjelaskan, jumlah anak terlantar secara keseluruhan mencapai empat juta orang.

“Total jumlah anak terlantar yang menjadi loper belum terdata pasti. Angka 400.000 ribu itu hitungan minimal. Bisa jadi sekitar satu juta orang dari mereka menyambi men jadi loper untuk mendapat penghasilan. Pemerintah juga mengupayakan pelbagai bantuan dan program bagi mereka termasuk acara Lopers Day yang diadakan hari Minggu mendatang di Ancol untuk para loper koran termasuk anak terlantar yang menjadi loper,” kata Kiki.

Disediakan 50.000 undangan gratis bagi para loper untuk menikmati fasilitas di Ancol dan potongan separuh harga di arena hiburan seperti Dunia Fantasi, Gelanggang Samudera dan Atlantis. Departemen Sosial menyediakan dana Rp 150 juta dan menyumbang perco ntohan sepeda loper sebanyak 11 unit.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan hadir dalam acara tersebut. Sebanyak 147 Diplomat dari negara sahabat juga diundang untuk berpartisipasi dalam Lopers Day. Ketua Panitia Lopers Day Sugeng Heri Santoso dari Harian Kompas menjelaskan, para loper rata-rata berpenghasilan sekitar Rp 500.000 per bulan. “Mereka bekerja umumnya pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB hingga maksimum pukul 09.00 WIB,” kata Sugeng.

Para bocah yang menjadi loper hidup dalam kondisi sangat marjinal dan rentan terhadap represi aparat pemerintahan. Ketua Yayasan Loper Indonesia (YLI) Laris Naibaho menjelaskan, dirinya sudah meminta kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar tidak lagi merazia para loper yang dianggap sebagai masalah sosial seperti gelandangan dan pengemis.

“Mereka adalah ujung tombak penyampaian informasi media cetak kepada masyarakat. Insan media dan pemerintah seharusnya memperhatikan para loper termasuk bocah yang bekerja sebagai loper koran. Banyak dari mereka hingga kini diburu dan dimasukan panti sosial Kedoya,” kata Naibaho.

YLI ujar Naibaho berupaya merangkul pengusaha koran, agen dan pihak terkait untuk menyediakan tunjangan dan peningkatan kesejahteraan loper. Dia sudah mengusulkan diadakan jaminan pengobatan, asuransi dan penyediaan 10.000 unit sepeda bagi loper koran.

Hari Anak Nasional Tetapi Siapa Yang Peduli Pada Mereka

Hiruk-pikuk suasana Pasar Tanah Abang dan deru kendaraan yang berlalu- lalang sepanjang Selasa (22/7) di kawasan itu seperti menenggelamkan penderitaan Amri (10). Duduk terkulai di pangkuan ayahnya, Aang (30), Amri tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan bersuara. Yang ada hanya rintihan dan air mata.

Selasa petang itu, belum sepotong makanan yang masuk ke mulutnya. Akan tetapi, air liurnya seakan berkata, ”Amri lapar, Pak….”

Masih adakah yang peduli dengan penderitaan Amri? Cermatilah, tubuhnya kurus kering. Sedikit bergetar, menahan rasa lapar. Tinggal ”sedikit daging” pembalut tulang belulang. Amri sampai tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.

Karena itu, jangan tanya keinginan dan harapan Amri pada Hari Anak Nasional sekarang ini.

”Jangankan biaya untuk berobat, biaya untuk makan saja harus menunggu belas kasihan orang yang lewat di sini. Saya tak sampai hati melihat kondisi anak saya, tapi mau bagaimana lagi?” kata Aang, yang beristrikan Uun (20) dengan suara lirih. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Barangkali, tidak hanya Amri yang kondisinya memprihatinkan. Ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu anak-anak lainnya di banyak daerah juga dalam kondisi lebih kurang sama.

Betapa banyak pembiaran yang dilakukan negara terhadap jutaan anak di negeri ini. Dari mulai pembiaran terhadap ratusan ribu anak jalanan yang terpanggang terik matahari di jalan-jalan raya hingga anak- anak yang terpaksa putus sekolah karena kesulitan ekonomi keluarganya. Belum lagi anak-anak yang kelaparan dan menderita busung lapar sehingga mengakibatkan hilangnya sebuah generasi unggul bangsa.

Kekerasan oleh negara

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan, pembiaran terhadap anak-anak telantar, anak putus sekolah, apalagi yang kelaparan tergolong pada kekerasan terhadap anak (child abuse) yang dilakukan oleh negara. Namun, ironisnya, negara tidak menyadarinya.

Begitu pun sekolah yang memberikan beban pekerjaan rumah terlalu berat atau stasiun televisi yang menayangkan adegan sadis tergolong tindak kekerasan. ”Namun, masyarakat kurang memahami. Dikiranya, kekerasan kepada anak hanya berupa siksaan fisik,” kata Seto Mulyadi.

Tindak kekerasan dan kejahatan kepada anak, kata Dewan Pakar Lembaga Cegah Kekerasan Indonesia Indra Sugiarno, saat ini sudah pada tingkat yang mencemaskan dan mengkhawatirkan. Bahkan, pada akhir triwulan pertama tahun 2007 muncul kasus dengan tingkat ekstremitas yang tinggi, yakni sejumlah kasus pembunuhan anak oleh ibu kandungnya sendiri. Kasus terakhir yang tercatat, Maret 2008 seorang ibu membunuh bayi dan anak balita dengan cara menceburkan mereka ke bak mandi.

”Modus baru yang harus diwaspadai adalah perdagangan anak untuk dijual organ tubuhnya. Menurut laporan dalam suatu pertemuan di Australia, diduga ada anak dari Indonesia menjadi korban perdagangan anak untuk kepentingan dijual organ tubuhnya,” kata Indra.

Menurut dia, anak-anak yang mengalami kekerasan dan kejahatan sehingga menyebabkan gangguan fisik dan mental diprediksi mencapai 10-12 persen dari jumlah anak di Indonesia.

”Kecenderungannya meningkat setiap tahun,” kata Indra, yang juga Ketua Satuan Tugas Perlindungan dan Kesejahteraan Anak Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Data kasus yang dilaporkan ke kepolisian, setiap tahun ada sekitar 450 kasus kekerasan pada anak dan perempuan. ”Sekitar 45 persen dari jumlah kasus itu adalah anak korbannya,” kata Indra.

Di sisi lain, anak-anak juga menjadi korban kekerasan dari lingkungan masyarakat. Tayangan televisi yang didominasi berbagai berita maupun sinetron bernuansa kekerasan adalah rangkaian bentuk kekerasan yang amat besar pengaruhnya bagi pembentukan kepribadian anak pada masa mendatang.

Dari analisis tayangan anak yang dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), meliputi tayangan kartun, sinetron anak, film fiksi nonkartun, serta program pendidikan dan kuis, ternyata banyak pelanggaran dari aspek visual, narasi, dan aspek nilai pendidikan.

”Tayangan televisi kita memang belum berpihak kepada anak-anak dan tidak pernah mempertimbangkan dampak suatu acara terhadap perkembangan mental anak,” kata Koordinator Isi Siaran KPI Yazirwan Uyun.

Pada Hari Anak Nasional ini semoga semua pihak menyadari anak adalah aset bangsa yang sangat berharga dan harus dilindungi. Sudah saatnya semua pihak menghentikan kekerasan terhadap anak, mulai dari sekarang hingga selamanya.

Anak Balita Terancam Kekurangan Gizi Karena Tingginya Margin Keuntungan Produsen Susu Formula

Melambungnya harga susu formula menyebabkan banyak orangtua mengurangi atau menghentikan pemberian susu tersebut kepada bayi atau anak di bawah lima tahun. Dokter ahli gizi, Tirta Prawita Sari, mengatakan, kondisi ini amat mengkhawatirkan dan berakibat buruk terhadap perkembangan fisik maupun otak anak.

”Tidak masalah memberikan susu kedelai, teh, dan tajin kepada anak balita sebagai asupan gizi tambahan karena di dalamnya juga terkandung protein, kalsium, kalori, dan beberapa vitamin. Namun, dibandingkan air susu ibu dan susu formula, kandungan zat gizinya kurang mencukupi bagi bayi atau anak balita,” kata Tirta, Rabu (16/7).

Dengan kandungan protein dan kalsium tinggi, air susu ibu (ASI) dan susu formula menentukan perkembangan fisik serta otak yang sempurna. Anak pun bisa tumbuh tinggi, kekebalan tubuh kuat, dan cerdas.

Tirta menambahkan, para orangtua diharapkan tetap memberikan ASI dan susu formula kepada anak-anaknya. Tidak perlu susu yang mahal, tetapi harus produk yang berizin resmi dari Departemen Kesehatan.

”Akan lebih baik jika pemerintah atau pihak swasta mulai memproduksi susu formula dalam negeri. Sumber bahan, berupa susu sapi cair maupun zat-zat yang dibutuhkan susu formula, amat sangat mungkin dipenuhi dari dalam negeri. Jika produksi sendiri dan bukan lisensi asing, tentu harganya bisa ditekan jauh lebih murah dan terjangkau oleh warga,” tutur Tirta.

Sementara itu, harapan warga bisa memperbaiki status gizi lewat pos pelayanan terpadu (posyandu) melalui program pemberian makanan tambahan (PMT) ternyata sulit terpenuhi. Hal itu terjadi karena posyandu umumnya memiliki dana terbatas dan tak mendapat dana khusus dari pemerintah untuk melaksanakan program perbaikan gizi.

Posyandu di RW 1 Kelurahan Sukasari, Kota Tangerang, misalnya, malah harus susah payah menghimpun dana untuk PMT. ”Biasanya kami berkeliling minta sumbangan kepada warga. Ada juga ketua RT yang setor Rp 30.000,” kata Ny Murni, ketua posyandu di sana. Wujud PMT antara lain pemberian telur rebus dan bubur kacang hijau dan agar-agar.