Warga Jakarta Utara Masih Hidup Miskin

Potensi ekonomi DKI Jakarta sesungguhnya sangat kuat dimiliki Jakarta Utara, tetapi rakyatnya masih miskin. Kemajuan ekonomi belum menyentuh warga miskin. Sementara pemerintah kota tidak memiliki kapasitas untuk mengaturnya karena semua kewenangan dikendalikan pemerintah provinsi.

Penilaian itu menjadi salah satu pokok pikiran yang muncul dalam diskusi bertajuk ”Jakarta Utara: Heterogenitas, Peluang dan Tantangan” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (1/7). Diskusi yang diselenggarakan Urban Poor Consortium (UPC) itu dihadiri utusan warga, arsitek dan ahli tata kota, serta peneliti.

Dalam catatan Kompas, Jakarta Utara (Jakut) menjadi pusat hunian penduduk miskin terbanyak di DKI. Kantong kemiskinan bermunculan dan dalam beberapa tahun terakhir jumlah penduduk miskin meningkat dari 31.000 keluarga menjadi 55.000 keluarga (Kompas, 6/2/2008).

Diskusi yang dipandu arsitek perkotaan, Marco Kusumawijaya, itu sebenarnya untuk merangkum fakta-fakta yang diamati para peneliti selama setahun sejak tahun 2007.

Penelitian difokuskan pada ekonomi lokal, keseharian warga, dan politik lokal di Kamal Muara, Penjaringan, Pademangan Timur, Semper Barat, Warakas, Muara Baru, dan Kali Baru.

Bersama UPC, Prof Abdou Maliq Simone, ahli perkotaan pada Goldsmith College, London, Inggris, juga melakukan penelitian selama tiga bulan. Pada diskusi kemarin, dia memberikan sejumlah catatan tentang Jakarta umumnya dan Jakut khususnya.

Dia mengatakan, tidak ada satu pun wilayah kota yang paling potensial di Jakarta selain Jakut. Di sini ada pelabuhan yang menjadi simpul utama aktivitas ekspor impor semua komoditas strategis bagi negara. Juga ada pergudangan, kawasan industri atau pabrik, daerah wisata pantai teramai, dan daerah tangkapan air.

”Semuanya adalah aset terpenting. Di sini terjadi interaksi yang luas dan dalam di dunia industri. Penting, tidak saja bagi Jakut, tetapi juga Jakarta. Ada peluang sekaligus tantangan,” katanya.

Potensi-potensi itu membuat Jakut lebih unik. Jalinan hubungan (interaksi) terjadi, baik antara yang miskin dan kaya, formal dan informal. Seharusnya itu berkembang menjadi sumber yang sangat kaya bagi kehidupan warga. ”Kita semua sebenarnya bisa mengembangkan dan memanfaatkan semua potensi,” kata Maliq.

Faktanya, semua potensi warga belum diberdayakan secara maksimal. Pemerintah malah mengutamakan pemilik modal dan usaha skala besar. Contohnya dilihat di tujuh daerah fokus penelitian tersebut.

Katanya, benar bahwa untuk memajukan ekonomi kota adalah meningkatkan investasi. Selama ini investasi selalu berarti penggalangan modal besar, termasuk dari lembaga keuangan internasional. Investasi lokal tersedia, tetapi pemerintah provinsi tidak mampu mengorganisasikan.

Pemkot Jakut tidak cukup berdaya dan berwenang dalam mengatasi masalah itu

Iklan

One response to “Warga Jakarta Utara Masih Hidup Miskin

  1. Semua ini tergantung iman-iman setiap org, di zaman sekarang banyak org pintar,tp tidak beriman. maka dari itu,terlihat sekali kesenjangan sosial dimana-mana,bukan hnya di Jak Utara saja. Seandainya semua warga indonesia mau menundukkan sedikit kepalanya,mungkin tidak akan seperti ini. Good Luck,…!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s