Proyek Milenium Untuk Mengantisipasi Kegagalan Negara Indonesia Yang Tinggal Tunggu Waktu Saja

Kegagalan negara-negara akan menjadi salah satu sumber atau konflik di dunia dalam satu dekade mendatang. Masalah lain yang menjadi penyebab adalah kelangkaan pangan dan energi serta meningkatnya kejahatan yang terorganisasi.

Setidaknya, demikian gambaran yang dituliskan dalam 2008 State of the Future Report, hasil dari Millennium Project, yang diprakarsai badan-badan PBB yang memiliki perwakilan di lebih dari 100 negara.

Apakah Indonesia akan masuk kategori negara gagal atau negara yang menjadi lokasi kekerasan dan ketidakstabilan politik, sebagaimana diramalkan laporan itu? Hal ini bisa terjadi jika antisipasi secara dini tidak dilakukan.

Namun, menjadi ironis jika Republik Indonesia termasuk sebagai negara yang masuk kategori itu. Masalahnya, RI pernah memiliki pola pembangunan yang jika ditata makin baik, akan membuat Indonesia tidak saja terhindar dari malapetaka, tetapi juga jadi negara unggulan.

Ekonom senior Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, misalnya, mengatakan, di Indonesia sebenarnya pada era pemerintahan Soeharto pernah memiliki program yang dapat mengantisipasi kelangkaan pangan, seperti jaringan irigasi dan pembukaan lahan pertanian.

Fauzi berbicara soal ketahanan pangan, yang juga merupakan sumber kekacauan banyak negara di masa depan.

”Dahulu ada program transmigrasi. Para petani diberikan lahan dan mereka membuka lahan baru. Petani tidak hanya menjadi penggarap, tetapi juga pemilik lahan,” kata Fauzi.

Di Pulau Jawa, sebagian besar petani hanya menjadi orang upahan. Akibatnya, jika ada kenaikan harga beras atau tekanan inflasi, buruh tani sangat terpukul. Sebaliknya, jika harga beras bagus, petani upahan juga tidak menikmatinya.

Karena itulah program transmigrasi dulu itu masih tetap relevan dilakukan, tetapi dengan perencanaan utuh, sehingga tidak membuat transmigran malah lari kembali ke Pulau Jawa.

Transmigrasi juga membuat terwujudnya program pendistribusian lahan yang lebih merata. Jika dihidupkan lagi dengan perencanaan lebih baik, tingkat produktivitas lahan juga harus diperbaiki. Hal ini juga sangat urgen, terutama lahan pertanian di Jawa yang padat penduduk.

”Hal lain yang penting adalah berinvestasi lebih banyak lagi pada produksi bibit unggul,” katanya lagi.

Fauzi mengatakan, masalah pangan memang masalah yang menjadi sangat krusial beberapa tahun ke depan. ”Banyak negara akan berperang hanya karena masalah pangan,” lanjutnya.

Persoalan irigasi, menurut dia, merupakan hal lain yang juga harus dibenahi dalam mengantisipasi kekacauan karena pangan itu. ”Sebenarnya dahulu sudah ada pembukaan jaringan irigasi yang cukup baik. Hanya saja, belakangan ini tampaknya irigasi sudah tidak menjadi perhatian lagi, padahal perannya besar dalam pertanian,” ujarnya.

Pemimpin penuntun

Mohtar Mas’oed, pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tak ragu mengatakan bahwa RI belum bisa dikatakan sebagai negara gagal. Alasannya, berbagai kelembagaan masih ada dan masih membuahkan hasil. Contoh paling nyata adalah produksi ekonomi masih berlangsung.

Namun, Mohtar tidak membantah jika RI menjadi negara dengan warga yang kini suka menghina diri sendiri. RI juga jadi negara dengan kecurigaan tinggi kepada siapa saja yang dianggap akan ”menerkam”.

Mohtar meminta, keadaan ”kacau”, yang memang tidak dibantah keberadaannya, seharusnya tidak membuat semua pihak menjadi tidak bergerak dan tidak beranjak.

”Saya ada di poros yang tidak mau sekadar menyalahkan keadaan,” kata Mohtar. ”Jika keadaan sudah begini, hal yang harus segera dilakukan adalah bagaimana agar kita keluar dari sederet permasalahan,” ujarnya.

Mohtar mengatakan, kini pembangunan keyakinan (confidence building) merupakan hal utama. Membuat bangsa menjadi yakin pada diri sendiri, menjadi mampu berbuat suatu, sehingga tidak terjebak pada lingkaran persoalan yang ada tanpa melakukan terobosan.

Namun, pembangunan kepercayaan diri itu, ujar Mohtar, berpulang pada keberadaan seorang pemimpin. ”Negara mana pun memang memerlukan pemimpin yang menjadi semacam pemberi navigasi,” katanya.

”Kita memerlukan ini. Pertanyaannya, kepada siapa kita menyandarkan kepemimpinan ini,” lanjutnya.

Mohtar mengatakan, dunia sebenarnya tidak perlu menjadi kacau. Jika bicara soal ketahanan pangan dan energi, masalahnya bukanlah pada ketiadaan pangan dan energi. Masalah yang muncul adalah ketidakmerataan distribusi. Ada yang mendapatkan sedikit, ada yang mendapatkannya secara berlebihan.

Hal ini lahir dari paradigma yang menganggap produksi dengan sendiri membuat distribusi terjadi secara merata. Kenyataan yang terjadi di dunia ini tidaklah demikian.

Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan adalah penciptaan sistem yang membuat pemerataan terwujud. Bagaimana agar sistem itu tercipta? Inilah yang harus menjadi pemikiran kita.

Namun, semua ini kembali lagi pada bagaimana agar sebuah keyakinan pada diri sendiri bangkit, sebuah keyakinan yang sebenarnya menjadi dasar bagi niat untuk bekerja lebih baik dengan hasil yang diyakini akan terjadi.

Kini bukan lagi saat menjadi saling sinis satu dengan yang lainnya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan ketimbang terjebak dalam sinisme

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s