Gotong Royong Modal Sosial Diharapkan Dapat Mempercepat Pembentukan Sinergi

Guna menekan jumlah warga miskin di daerah, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri bersama Pemerintah Kabupaten Kulon Progo membentuk 14 pos pemberdayaan keluarga di dua kecamatan. Pos ini diharapkan mampu menjadi pusat pelatihan dan pengembangan potensi diri bagi warga miskin.

Dua kecamatan di Kulon Progo yang sudah memiliki pos pemberdayaan keluarga (posdaya), yaitu Kecamatan Pengasih dan Temon. Menurut Bupati Kulon Progo Toyo Santoso Dipo, kedua kecamatan tersebut dipilih sebagai percontohan posdaya karena warganya dikenal memiliki budaya gotong royong yang tinggi di Kulon Progo.

“Inti dari keberhasilan posdaya, bagaimana warga bisa bersinergi mengentaskan kemiskinan. Gotong royong merupakan modal sosial utama bagi pembentukan sinergi,” kata Toyo pada sosialisasi posdaya di Desa Kaliagung, Sentolo, Kulon Progo, Sabtu (9/8).

Menurut data Badan Pusat Statistik, saat ini jumlah warga miskin di Kulon Progo mencapai 42.078 rumah tangga, dengan jumlah anggota keluarga diperkirakan lebih dari 163.979 jiwa. Angka ini tersebar hampir merata di seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kulon Progo. Dijelaskan Ketua Yayasan Dana Sejahtera Mandiri Haryono Suyono, posdaya bisa juga dimengerti sebagai pendampingan masyarakat. Para petugas lapangan yang diterjunkan di tiap-tiap pos akan berusaha menggali masalah kemiskinan dan menemukan potensi wilayah serta sumber daya manusia yang ada.

Setelah itu, petugas bersama warga miskin akan bertukar pikiran mengenai solusi pengentasan kemiskinan yang sesuai dengan karakter wilayah. Solusi ini kemudian dinyatakan ke dalam bentuk-bentuk kegiatan pelatihan, perintisan usaha, dan pengembangan kemampuan diri bagi warga.

“Kami juga sudah menyiapkan dana pendampingan yang dapat dimanfaatkan sebagai modal awal kegiatan warga di bank-bank daerah. Untuk seluruh Indonesia, jumlahnya Rp 1,2 triliun. Warga yang butuh bisa mengajukan permohonan kepada bank dan pasti akan disetujui,” tutur Haryono.

Sukses

Haryono optimistis posdaya akan sukses di Kulon Progo karena program tersebut telah berhasil di daerah lain. Sebagai contoh adalah Kabupaten Bantul, khususnya pada saat masa pemulihan pascagempa, tahun 2007. Kehadiran posdaya dalam wujud sekolah unggulan dan pos pelayanan terpadu (posyandu) plus mampu membangkitkan semangat gotong royong warga untuk memperbaiki fasilitas pelayanan masyarakat.

Diharapkan, pada tahun 2009 dan seterusnya, posdaya akan menyebar ke seluruh pelosok Kulon Progo. Untuk membantu menyosialisasikan program ini, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo akan dibantu oleh tenaga pendamping dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta.

Menurut Rektor UST Djohar, pihaknya akan berusaha menerapkan metode sosialisasi yang sesuai dengan kebutuhan warga, dengan begitu program posdaya bisa lebih mudah diterima dan dilaksanakan oleh warga miskin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s