4 Juta Anak Indonesia Mengalami Kekurangan Gizi

Sebanyak 4 juta anak Indonesia penderita kurang gizi terancam merosot kondisinya ke gizi buruk jika tidak ditangani semestinya. Hal ini mengkhawatirkan karena dari 250.000 posyandu, yang aktif kurang dari 50 persen. Sementara pemerintah hanya mampu menangani 39.000 anak gizi buruk per tahun.

Demikian diungkapkan ahli gizi anak dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Ali Khomsan MS, dan Tim Ahli Anak dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Tb Rachmat Sentika, pada peluncuran Nestle Dancow Batita, Senin (11/8) di Jakarta.

Ali Khomsan mengatakan, gizi buruk dilaporkan telah memakan korban. Di Nusa Tenggara Timur, sejak Januari sampai Juni 2008, dilaporkan 23 anak balita gizi buruk meninggal. Kasus di daerah lain banyak, tetapi belum terungkap. Penyebab tingginya angka tersebut adalah kemiskinan. Jika tak ditangani dengan baik, status anak kurang gizi bisa menjadi gizi buruk. Karena miskin, kandungan makanan mereka dominan karbohidrat.

Untuk mencegah merosotnya kondisi anak kurang gizi, posyandu perlu direvitalisasi, antara lain dengan meningkatkan kualitas kader posyandu, terutama soal pengetahuan tentang gizi. Faktanya, pengetahuan gizi kader posyandu umumnya rendah. Apalagi mereka kurang dihargai, dianggap sebagai pekerja sukarela.

”Dari 250.000 posyandu yang ada, tidak lebih dari 50 persen yang masih aktif. Berarti, cakupan pengendalian kualitas gizi balita tak lebih 50 persen,” ujarnya.

Menurut Rachmat, hal mendesak yang harus dilakukan adalah operasi sadar gizi dan keluarga berkualitas secara swadaya. “Timbang seluruh balita tanpa kecuali, tetapkan status gizinya, laporkan secara berjenjang dengan jujur. Penderita gizi buruk atau di bawah garis merah segera lakukan PMT (pemberian makanan tambahan) dan pemulihan di fasilitas kesehatan terdekat. Gizi buruk yang dipulihkan dikembalikan ke masyarakat melalui kader posyandu, bidan desa, dan puskesmas,” paparnya.

Dua tahun pertama

Ali Khomsan mengungkapkan, masa-masa penting dalam pertumbuhan bayi adalah dua tahun pertama. Sel otak anak sampai usia 2 tahun akan berkembang baik jika mendapat asupan gizi yang baik. Jika mengalami gizi buruk di bawah usia 2 tahun, perkembangan kecerdasannya akan terganggu. Ini tak akan tergantikan walau diberi asupan gizi misal sampai usia 5 tahun.

“Fase cepat tumbuh otak mulai dari janin usia 30 minggu sampai bayi 18 bulan. Otak tumbuh selama balita. Ketika lahir jumlah sel otak 66 persen, dengan bobot total 27 persen,” katanya.

Menurut Presiden Direktur Nestle Indonesia Peter Vogts, produk susu formula untuk usia 1-3 tahun bisa mengantisipasi balita kurang gizi dan gizi buruk karena nutrisinya lengkap.

Iklan

One response to “4 Juta Anak Indonesia Mengalami Kekurangan Gizi

  1. anak-anak yang di dambakan setiap orang tua, nampaknya tidak diinginkan oleh bangsa kita. mungkin kta hanya melihat (mata) sebagian besar sekitar kita berkecukupan, bahkan jika kita melihat (hati) apakah akan tersimpan di memori kita, melihat seorang balita yang kekurangan gizi dengan postur tubuh tidak normal,setiap helai nafas bahkan rintihan akan kah kita mengenang bahkan menyimpan hal seprti itu. Jawabanya ada dalam hati nurani dan mata jiwa setiap manusia
    Kemiskinan bukan segalanya di dunia ini, tetapi adil dan bahagia lah yang dibutuhakan oleh penerus kita………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s