Orangtua Tak Sanggup Bayar Rumah Sakit, Bayi Meninggal – Janji Pemerintah Tinggal Janji Atau Memang Pembohong Akut

Tragedi yang menimpa keluarga miskin seperti cerita tanpa episode akhir. Sebuah keluarga harus kehilangan putra tercintanya yang baru berusia 5 bulan lantaran tak kuat membayar biaya rumah sakit yang selangit.

Muhamad Renaldi, 5 bulan, meninggal dunia di rumahnya Gang Tanjung RT06/04, Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (31/10) pagi.

Bayi itu pulang dari Rumah Sakit Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (30/10) petang, setelah dirawat selama 29 hari di rumah sakit tersebut karena sakit panas.

Kepulangan Renaldi sebenarnya bukan atas kemauan keluarga. Namun mereka terpaksa membawa pulang buah hatinya setelah pihak rumah sakit menyodorkan biaya rumah sakit sebesar Rp20 juta.

Bagi Ny. Hariyati, 26, ibu Renaldi, angka itu hampir mustahil dipenuhi, meski cuma membayar 50 persennya saja. Apalagi sang suami kini tak tahu di mana keberadaannya. Hariyati dan bayinya selama ini hanya menggantungkan hidupnya pada Ny. Nani, 43, dan Asih Asmadi, 45, orangtuanya yang cuma seorang pengojek motor.

Melihat biaya yang selangit itu, pihak keluarga memutuskan membawa pulang Renaldi. “Dokter memang menyatakan cucu saya sudah membaik dan bisa dirawat jalan. Tapi saat itu suhu badannya sesungguhnya masih panas dan kondisinya lemah. Yah kami mau bagaimana lagi. Sebenarnya berat untuk membawanya pulang tapi kami tak punya uang,” keluh Nani.

Setelah sang cucu berada di rumah, suhu badannya makin tinggi dan terus menangis. “Esok paginya Renaldi menghembuskan nafas terakhir di pelukan ibunya,” ungkap Nani.

Nani mengakui saat ini pihak RS masih menahan KTP orang tua korban dan suaminya sebagai jaminan. Sebab, kata Nani, jika tidak ada jaminan berupa KTP atau BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) pasien tidak boleh pulang. ”Entah bagaimana kami harus membayarnya. Sedang untuk bayar uang DP saja kami harus minjam tetangga dan belum bisa dilunasi,” keluh Nani.

RS HAJI BANTAH MENGUSIR
Pihak RS Haji membantah telah mengusir pasien. Bayi itu dipulangkan karena kondisinya sudah membaik. “Kalau terus di rumah sakit justru ia bisa kena penyakit lain karena banyak pasien lainnya,” kata dr. Eli yang menangani sakitnya Renaldi.

Menurutnya, saat datang, bayi lima bulan itu dalam kondisi parah. Berat badannya 4,5 kilo, diare, berak darah dan hasil rontgen menunjukkan sakit paru-paru parah yang ditunjukkan dengan kedua paru-paru berwarna putih. Selain itu, sel darah putih mencapai 54.000 dari kondisi normal 10.000 hingga 15.000. Bayi itu juga menderita gizi buruk.

Diakuinya, ketika pulang bayi itu beratnya 4,1 kilo. Namun, panas tubuhnya 37 derajat dan sudah tak diare atau berak darah lagi. Sel darah putihnya turun menjadi 19.000 dan Hb-nya yang semula 9 menjadi 12,8. “Melihat bayi itu datang dan bisa pulang dalam keadaan lebih baik saya sangat bersyukur.”

Melihat perkembangan kesehatan bayi tersebut, Eli menduga bayi itu meninggal mendadak karena tersedak hingga masukan oksigennya terhanggu dan bisa mengakibatkan kejang. “Masalah tersedak ini yang biasa menyebabkan bayi meninggal mendadak.”

Selama perawatan, sambung dia, keluarga bayi tak pernah diberikan resep sehingga tak perlu mencari obat sendiri. Segala kebutuhan obat hingga susu kedelai diberikan rumah sakit.

Sedangkan Inuthiah, Kepala Bagian Perawatan RS Haji, mengatakan bayi itu bukan pasien Gakin yang bisa seratus persen gratis. Perawatan 20 hari dengan dua kali masuk ruang ICU selama 3 hari, biayanya mencapai Rp 20 juta.

Seminggu setelah perawatan, keluarga bayi baru menyatakan dari keluarga tak mampu. Merekapun memberikan surat keterangan tak mampu (SKTM). Dengan SKTM ini, Dinas Kesehatan DKI melalui Puskesmas akan melihat keluarga itu untuk menentukan besar biaya yang harus ditanggung pasien. Ketika keluar rumah sakit, keluarga diingatkan untuk membayar semampunya. “Dengan SKTM besar biaya yang harus dibayar bukan kami yang menentukan,” ujarnya. “Bisa saja Dinas Kesehatan menilai keluarga itu bisa membayar 20 persen, 50 persen atau bahkan tidak sama sekali.”

Kepala Subdin Pemasaran Sosial dan Informasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Tini Suryanti, yang dihubungi mengaku belum mendapatkan informasi adanya kasus ini. “Saya akan melakukan pengecekan, jika benar terjadi maka akan kami berikan sanksi tegas.”

Sanksi akan diberikan mulai dari surat teguran hingga pemecatan. Apalagi hingga menyebabkan pasien yang bersangkutan meninggal dunia. “Dinkes dapat merekomendasikan ke Depsos unutk melakukan pemecatan terhadap oknum itu jika nantinya terbukti bersalah.”

BOCAH TERSERANG TUMOR GANAS
Di Bogor bayi berusia tiga bulan kini bergelut dengan tumor ganas yang menyerang bagian kepala dan hidungnya. Tumor ganas itu terus membesar hingga menutupi mata sang bocah.

Bayi malang itu, Muhamad Refandi Permana, kini hanya bisa menangis. Kedua orangtuanya yang miskin tidak berdaya untuk memberinya perawatan medis yang memadai. Yusuf, 26, dan istrinya, Yeni, 24, kedua orangtua Refandi, hanya bisa pasrah sambil berharap uluran tangan dermawan.

Refandi memang pernah mendapat perawatan di RSD Ciawi. Menurut dokter yang menangani, sang bocah menderita proptosis os ec susp encephalocele atau tumor ganas. “Saya pasrah dengan kondisi anak saya. Doa saya, semoga ada yang menolongnya,” ujar Yeni yang saat ini tinggal di RT 02/ 02 Desa Bitungsari Kecamatan Ciawi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s