Masyarakat Miskin Membludak – Antri 1 kg Daging Kurban Idul Adha Hingga Berjam-jam Untuk Kemudian Dijual

Potret kemiskinan rakyat di tanah air memang tak bisa ditutup-tutupi lagi. Gambaran nyata tampak Selasa (9/12) saat ribuan warga berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan sekilo daging kurban. Mereka bahkan ada yang jatuh pingsan karena berjam-jam menunggu di antrean. Ada apa dengan bangsa ini?

“Melihat fakta-fakta itu membuat hati trenyuh, sesungguhnya pemerintah telah melakukan kebohongan publik soal rakyat miskin,” kata Agung Sasongko, anggota Komisi VIII DPR-RI kepada Pos Kota, Selasa (9/12) malam.

“Data BPS hanya menguntungkan pemerintah sepihak. Padahal kalau mau jujur, itu tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi di masyarakat, tidak akurat,” tandasnya.

Anggaran untuk rakyat miskin di Indonesia, tutur politisi dari FPDIP ini, belum sesuai dengan yang diharapkan sebagaimana amanat UUD. “Kalau dibilang rakyat miskin ada 15,1% sedangkan hitung-hitungan APBN kita ada Rp1000 triliun, seharusnya anggaran bagi mereka 10%-nya atau Rp15 triliun,” katanya. “Lha sekarang ini apa pemerintah memberikan anggaran itu.”

Jadi, aneh sekali kalau pemerintah selalu mengatakan bahwa kemiskinan semakin berkurang. Kalau mau jujur kemiskinan terus bertambah dari tahun ke tahun.

“Gambarannya nyata bisa dilihat sendiri, pembagian zakat di Jawa Timur beberapa waktu lalu untuk mendapat uang Rp20 ribu puluhan orang meninggal,” katanya. “Demikian juga pembagian daging kurban mereka harus antre berjam-jam bahkan bertaruh nyawa.”

MIMPI BURUK
Ketidakjujuran dan ketidaktransparanan pemerintah dalam mengelola negara, kata Agung, merupakan kendala dalam mengatasi kemiskinan. “Kalau angkanya dipolitisir akhirnya seperti sekarang, angkanya nggak pernah ketemu dan selalu bermasalah.”

Ketua FKB DPR Effendy Choirie mengemukakan berbagai perilaku orang miskin yang menjadi tontonan setiap hari tak bisa dijadikan alat pemerintah untuk membohongi bahwa orang miskin turun.

“Itu visualisasi yang nyata dari keadaan masyarakat yang sesungguhnya mulai antrean untuk dapat uang sampai makanan yang tidak seberapa. Tidak mungkin kalau masyarakat mampu mau antre, ngorbanin waktu bahkan bertaruh nyawa seperti itu,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Daerah (PPD) Adhie Massardi berpendapat, kondisi masyarakat Indonesia saat ini bagaikan mimpi buruk. “Tiba-tiba semuanya harus antre. PHK dimana-mana membuat masyarakat cenderung mengalami depresi”.

Yang lebih menyakitkan, tuturnya, pemerintah justru melihat kondisi ini sebagai biasa-biasa, seolah-olah normal saja. “Hampir tidak ada langkah inovatif pemerintah untuk menanggulangi masalah bangsa ini. Tidak ada kebijakan pusat yang menguntungkan masyarakat di daerah. Etos masyarakat kita telah menjadi peminta-minta”.

EKSES KEMISKINAN
Sosiolog Universitas Nasional Jakarta, Sigit Pranawa mengatakan, ekses kemiskinan memang memunculkan berbagai upaya yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu guna memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan tak sedikit masyarakat yang selalu mengharapkan bantuan atau pemberian orang lain. “Termasuk mereka yang mengantre daging kurban, belum tentu ada orang yang benar-benar miskin yang jarang bersentuhan dengan menu daging.”

Menurutnya, mengantre daging kurban hanya salah satu cara yang dimanfaatkan masyarakat supaya dapat uang dengan mudah. Masih banyak cara lain yang akan digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi kebutuhannya. Antre zakat, antre sembako sampai tindakan kekerasan dan kejahatan.

“Warga miskin bakal bertambah banyak. Sebelum krisis saja, angka kemiskinan sudah melonjak tinggi. Apalagi bila krisis tidak segera ditangani dengan perbaikan ekonomi,”kata Wardah Hafidz, Ketua Konsorsium Kemiskinan Kota (UPC), Selasa (9/12).

Ia menyebut, di Jakarta saja saat ini lebih dari 1 juta keluarga miskin, walau data pemda hanya sekitar 160 keluarga saja. “Ini kota besar, belum lagi di pelosok desa tentu mereka bakal lebih menderita,”katanya.

Dirjen Pemberdayaan Sosial Depsos Prof.DR.Gunawan Sumodinngrat mengemukakan, kondisi masyarakat saat ini sepertinya sudah membudaya dan melekat. Sudah saatnya menggugah kesadaran semua lapisan masyarakat untuk meningkatkan solidaritas antarsesama.

“Mari berbagi kepada masyarakat yang kurang mampu. Sebab jika mereka kelaparan, maka tidak mustahil orang kaya akan ikut menanggung risikonya. Keamanan tidak terjamin sehingga kemana-mana menjadi tidak nyaman,” tandasnya.

Menurut Gunawan, data terakhir Biro Pusat Statistik (BPS) ada sekitar 35 juta rakyat miskin di Indonesia yang separuhnya atau sekitar 19 juta lebih adalah pengangguran. Depsos berupaya merubah mental masyarakat miskin yang selama ini mengandalkan pemberian dan bantuan menjadi masyarakat yang berdaya guna, yaitu melalui program pemberdayaan miskin. “Banyak masyarakat miskin yang masih punya semangat kerja keras”.

DAGING KURBAN DIJUAL
Sejumlah warga yang mendapat daging kurban di Mesjid Istiqlal ternyata menjualnya kepada penampung yang juga ada di lokasi itu. Mereka mengaku lebih membutuhkan uang sehingga terpaksa menjual daging kurban.

Tris, satu warga yang ikut mengantre mengaku menjual daging tersebut karena butuh duit buat biaya kebutuhan sehari-hari. Dia juga mengaku daging tersebut diambil dari seorang panitia pemotongan kurban.

“Ini mah lebih banyak tulangnya. Daripada dibuang, mendingan saya ambil saja,” ujarnya sambil mengeluarkan daging tersebut dari karung. Setelah ditimbang, karung berisi tulang dan tetelan itu beratnya sekitar 25 kilo. Selanjutnya daging tersebut dijual dengan harga Rp 75 ribu.

PRIHATIN
Dara cantik berkulit kuning langsat yang juga finalis Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Vega Darmawanti mengaku prihatin dengan kondisi masyarakat yang memperebutkan, bahkan sampai menjual kembali daging kurban.

“Aku sungguh prihatin ya dengan kondisi masyakarakat yang seperti itu. Ini menandakan kalau masyarakat Indonesia masih banyak yang miskin banget. Daging aja jadi rebutan,” cetusnya kepada Pos Kota, tadi malam.

Cewek kelahiran 12 Maret 1986 yang juga berperan sebagai Ngatini dalam reality show ‘Empat Mata’ itu mengemukakan kondisi memprihatinkan itu semestinya menjadi bahan renungan bagi kita untuk bahu-membahu mengentaskan kemiskinan.

Meskipun pengentasan itu merupakan tugas pemerintah, dia mengingatkan seluruh komponen masyarakat sepatutnya ikut berperan. “Kondisi memelaskan yang terjadi hampir setiap tahun, termasuk dalam pembagian zakat, seperti itu semetisnya jangan lagi pemandangan buruk,” ujarnya

Iklan

One response to “Masyarakat Miskin Membludak – Antri 1 kg Daging Kurban Idul Adha Hingga Berjam-jam Untuk Kemudian Dijual

  1. Kalau memang keadaannya demikian, saya sendiri ikut prihatin. Disamping pemerintah harus bertanggung jawab, seyogyanya anggota DPR yang tugasnya melakukan pengawasan dan juga turut menjadi pembuat UU, mbokya jangan membuat UU yang hanya bersifat praktis pargmatis yang hanya untuk menguntungkan kelompok atau partai yang diwakilinya saja, contoh produk UU yang dibuat DPR kita ini banyak sekali yang bersifat sementara, lihat UU Pilpres, begitu Pemilu, UUnya dirubah-rubah. Tidak ada lagikah politisi kita yang visioner. Dan juga saat ini, siapa sih yang disebut dengan pemerintah itu. Di Jkt Presiden dan wklnya Demokrat dan Golkar, sementara di Tingkat satu, sudah lain lagi dan demikian juga di tingkat dua. Jkt bergoyang populer di daerah bergoyang rok atau bahkan dangdut. Ayo Siapa yang harus bertanggung jawab dengan sistem demikian. Presidenkah, DPRkah atau rakyatnya. Kasihan deh rakyat Indonesia, kalau politisi yang mengodok UU itu kemampuannya untuk kepentingan pribadi dan partainya tanpa memikirkan rakyat dan negara ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s