Kampung Miskin Di Jakarta Barat yang Selalu Gelap di Siang Hari

Permukiman yang padat di Jakarta Barat, nyaris tidak menyisakan ruang bagi sinar matahari menerangi jalan kampung. Permukiman kumuh, padat, dan selalu gelap meski di siang hari merupakan keseharian di sejumlah permukiman kumuh di Jakarta Barat.

Kondisi tersebut ditemukan setidaknya di Gang Venus, RW 03, Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora.

Adi, pengurus RW yang mengantar Kompas, mengajak berkeliling gang sempit yang harus dilalui bergantian jika dua orang berlawanan arah berpapasan. Lebar gang hanya sekitar satu meter hingga satu setengah meter.

Suasana gelap menyergap karena di beberapa ruas Gang Venus, di bagian atap gang juga, ditutup hunian warga dari bahan kayu semipermanen. Udara terasa pengap di lokasi tersebut karena minim sirkulasi udara.

Bahkan sejumlah ibu rumah tangga memasak dan mencuci di gang sempit di antara rumah- rumah mereka. Pengendara motor pun sulit bergerak di gang sempit itu.

”Kalau ada kebakaran bisa langsung habis kampung ini. Rumah sangat rapat dan banyak material dari kayu,” kata Adi.

Kepadatan penduduk di RW 03, Kelurahan Jembatan Besi, menurut Cholil, mencapai 6.000 jiwa lebih di wilayah seluas enam hektar atau rata-rata 1.000 orang penghuni di tiap hektar lahan. Jauh di atas angka ideal sebuah hunian yang maksimal 300 jiwa per kilometer persegi.

Kondisi serupa terlihat di Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Nyonya Ida, warga Kelurahan Kalianyar, mengaku dua anaknya tiap malam harus tidur di pos ronda karena rumah ukuran 4 meter x 3 meter tidak sanggup menampung enam orang anggota keluarga.

Gang-gang gelap juga terlihat di sekitar rumah Ida. Bangunan tiga lantai berimpitan, kabel menjuntai menggantung di luar rumah-rumah semipermanen. Jamban pun dibangun di gang di sela rumah warga untuk digunakan bersama.

Sekretaris Kecamatan Tambora Maulana Ali mengatakan, di perkampungan kumuh diupayakan razia kabel untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Solusi rumah susun

Wali Kota Jakarta Barat Djoko Ramadhan mengatakan, kepadatan penduduk di perkampungan padat dan kumuh sudah tidak dapat ditolerir. Kebutuhan pembangunan rumah susun menegah ke bawah sudah sangat mendesak di Jakarta Barat.

”Pembangunan rumah susun dan apartemen menengah ke bawah terus dirintis. Setidaknya di Cengkareng apartemen menengah ke bawah sudah di bangun. Rumah susun milik juga dalam proses pembangunan di kawasan tersebut. Sejumlah pengembang seperti yang membangun Seasons City menyatakan siap membangun rumah susun untuk masyarakat miskin,” kata Djoko.

Sejumlah proyek rumah susun untuk rakyat kecil di Jakarta Barat memang sudah berdiri seperti di Rumah Susun Cinta Kasih Tzu Chi di Cengkareng. Namun, kebutuhan tetap tinggi karena laju urbanisasi dan kelahiran yang tidak terkendali.

Rumah susun yang ada pun banyak yang berada dalam keadaan memprihatinkan. Uhi, warga Kelurahan Angke, mengatakan, rumah susun yang ada sudah dalam keadaan kumuh.

”Kabarnya ada peremajaan. Jumlah lantai akan ditambah di Rumah susun Angke. Warga lama minta prioritas dapat kembali menghuni di sana. Warga lama banyak yang resah,” kata Uhi.

Itulah ironi Jakarta Barat yang menjadi potret manajemen negeri ini. Pembangunan apartemen mewah terus tumbuh di saat tidak ada ketersediaan rumah susun menengah ke bawah yang sangat dibutuhkan warga di kampung yang selalu gelap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s