Jurang Antara Si Miskin dan Si Kaya Semakin Lebar … Mari Berbagi

Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim ditutup dengan hasil yang menampakkan melebarnya jurang antara negara kaya dan negara miskin. Oleh karena itu, akan diupayakan ada perundingan pendahuluan pada September 2009.

Perundingan pendahuluan September 2009 pada Sidang Umum PBB tersebut bertujuan mempermulus jalannya kesepakatan akan pakta baru pasca-Protokol Kyoto yang direncanakan ditandatangani pada Konferensi Para Pihak (COP)-15 Kerangka Kerja Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) pada Desember 2009 di Kopenhagen, Denmark.

Konferensi di Poznan, Polandia, yang dimulai dengan COP-14 sejak 1 Desember 2008, berakhir setelah para menteri bernegosiasi hingga Sabtu (13/12) dini hari. Hasilnya, muncul jurang lebar kepercayaan antara negara kaya dan negara miskin terkait dengan komitmen akan dana (adaptasi) dan target pengurangan emisi.

”Poznan mencapai hasil seperti yang diharapkan, tetapi ada catatan yang kurang menggembirakan,” ujar Sekretaris Eksekutif UNFCCC Yvo de Boer, Sabtu.

Sebelumnya, Brasil dan India menuding negara-negara maju tidak menunjukkan kemurahan hati untuk membantu negara-negara berkembang. Dari dana adaptasi yang diharapkan sekitar 1 miliar dollar AS, negara-negara maju baru memberikan komitmen sebesar 172 juta dollar AS.

”Kondisi ini mengkhawatirkan. Orang mulai mengambil posisi untuk bersikap keras,” ujar De Boer saat penutupan.

Pertemuan September

Setelah negosiasi yang berjalan tidak seperti yang diharapkan itu, De Boer mengungkapkan dukungannya pada usulan Sekjen PBB Ban Ki-moon untuk mengadakan pertemuan tentang perubahan iklim pada September 2009 guna melancarkan perwujudan pakta baru pasca-Protokol Kyoto yang akan berakhir 2012.

Pada 11 Desember 2008 Ban mengatakan, ”Saya mempertimbangkan akan mengadakan pertemuan puncak dengan fokus perubahan iklim saat Majelis Umum PBB, September 2009.”

”Berdasarkan pengalaman, terutama saat terjadi negosiasi multilateral yang amat sensitif dan kompleks, pelibatan para pemimpin dunia dan pemerintahan sangat diperlukan dan amat penting,” ujar Ban. Pertemuan puncak serupa dilakukan pada September 2007—menjelang COP-13 UNFCCC di Bali.

Rencananya, pertemuan September 2009 akan melibatkan presiden AS yang baru, Barack Obama. Banyak pihak mengharapkan Obama menjadi pemimpin baru pada perundingan perubahan iklim yang semakin sulit mencapai kesepakatan itu.

”Kami prihatin dengan melebarnya jurang kepercayaan antara negara maju dan berkembang,” ujar Menteri Lingkungan Afrika Selatan Marthinus van Schalkwyk. ”Beberapa negara maju masih bermain petak umpet soal iklim ini,” lanjutnya.

Negara-negara Uni Eropa masih bertahan dengan angka pengurangan emisi 20 persen hingga 2020 walaupun, menurut para ahli, dibutuhkan pengurangan 25-40 persen untuk dapat menahan laju pemanasan global yang kini terjadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s