Harga Gas Buat Orang Miskin Makin Liar Akibat Kegagalan Pemerintah SBY dan JK

Pemerintah tidak tegas menerapkan harga eceran tertinggi (HET) elpiji ukuran 3 kilogram. Kini, harga barang yang menjadi kebutuhan rakyat miskin itu menjadi liar. Tidak terkendali. Padahal, awalnya pemerintah memaksa rakyat mengalihkan penggunaan minyak tanah ke gas. Pemerintah pun melempar gas ukuran 3 kg ke pasaran dengan dalih membantu rakyat miskin.

“Pemerintah gembar-gembor nyuruh kami pakai gas dengan alasan lebih hemat. Nyatanya sekarang sudah barangnya susah didapat, harganya juga mencekik leher,” kata Ny. Atikah, warga RW 13 Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Senin (22/12).

Harga resmi gas ukuran 3 kg Rp13 ribu. Tetapi kenyataan di pasaran saat ini harganya sudah berkisar Rp 18 ribu hingga Rp20 ribu. Bagi warga kurang mampu harga itu tentu sangat memberatkan.

Hal senada diungkapkan Ny. Yuyun, warga RW 05 Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing. Ia mengaku bingung mengatur uang belanja. Sebab dia menerima uang kebutuhan sehari-hari dari suaminya yang buruh harian hanya pas-pasan. Jika seluruh penghasilan itu harus dikeluarkan hanya untuk gas, lantas untuk membeli kebutuhan lainnya bagaimana?

Sementara itu, antrean di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) Pegangsaan Dua, Jakarta Utara, sampai kemarin masih cukup panjang. Sejumlah sopir truk pengangkut mengaku masih antre hingga beberapa jam. “Saya datang jam 9 pagi tetapi baru bisa mengisi gas jam 3 sore. Ini sangat merugikan,” kata Supri satu sopir pengangkut gas.

LANGKA DAN MAHAL
Dalam kondisi normal dia rata-rata bisa mengangkut gas ke agen-agen 4 hingga 5 rit dengan upah Rp 20 ribu per rit. Maka kalau sehari hanya dapat satu rit tentu dia mengaku rugi karena membuang banyak waktu tanpa penghasilan yang cukup.

Selain yang berukuran 3 kg, gas ukuran 12 kg juga harganya melambung. Gas ukuran ini sejak beberapa hari lalu harganya naik dari Rp75 ribu per tabung menjadi Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu.

Sejumlah pengecer di Jakarta Timur mengatakan, untuk pasokan gas ukuran 3 kg sulit, ditambah lagi selama tiga hari ini ukuran 12 kg juga ikut-ikutan berkurang. “Kalau pun dapat, jumlahnya turun drastis. Biasanya saya ambil 500 unit untuk ukuran 3 kg dan 12 kg. Sekarang hanya bisa dapat 100 unit,” katanya.

Langkanya gas elpiji ini jelas membuat pembeli berebut di agen dan pengecer, Misalnya, yang terjadi di Kelurahan Penggilingan. “Waduh, biasanya saya beli cukup di pengecer, sekarang mesti berebut di agen dengan para pengecer,” kata Ny Anisah, warga Penggilingan.

Paluli, pengecer di Jl. Raya Pulogebang, malah terpaksa harus berkeliling ke sejumlah agen untuk mendapatkan tabung gas ukuran 3 kg dan 12 kg. “Sudah lima agen saya datangi, tapi semuanya kosong. Payah nih. Kalau pun ada harganya di agen saja sudah Rp 85 ribu untuk ukuran 12 kg. Lantas berapa harus saya jual lagi?” keluhnya.

KACAU
Didi Suryadi, Ketua DPD Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Jakarta, Jabar, dan Banten mengatakan, mahalnya harga jual gas elpiji belakangan ini akibat kacaunya sistem distribusi.

“Karena distribusi kacau. Harga gas elpiji yang berlaku di pasar sekarang ini adalah harga kemelut,” katanya kepada Pos Kota.

Di tempat terpisah, Tulus Abadi, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai menggilanya harga jual gas elpiji ini karena sikap pemerintah sendiri yang tidak konsisten. Masyarakat sudah disuruh pakai gas elpiji, tapi pemerintah tidak menjamin stok serta jalur distribusi gas elpiji. Karenanya, ia mendesak pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan tata niaga gas elpiji.

HET GAS
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), S Zakaria mengungkapkan, sesuai keputusan Menteri ESDM nomor 3174k/k/12/MEM/2007 tanggal 27 Desember 2007, HET gas 3 kilo hanya Rp4.250/kg atau Rp12.750/tabung. Namun kenyataannya, dibayar masyarakat kecil jauh lebih mahal hingga Rp20 ribu/kg. Sedangkan harga gas 12 kilo, sesuai keputusan direksi Pertamina, hanya Rp 5.750/kilo atau Rp 69 ribu/tabung.

Mahalnya harga gas elpiji 3 kg yang dibayar masyarakat kecil, karena sumirnya penjelasan tentang titik serah. Seharusnya dalam Kepmen ESDM pada butir kelima tentang titik serah bukan sampai ke agen atau pangkalan, tapi ke outlet atau pengecer. “Sehingga agen dan pangkalan tidak memungut ongkos angkut lagi,” paparnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s