APINDO Prihatin Kemiskinan Di Indonesia Semakin Dalam

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia secara riil tidak berubah dari tahun ke tahun. Ini dilihat dari angka kemiskinan yang kenyataannya tidak berubah dan pengangguran yang terus bertambah.

Sekretaris Umum Apindo Antonius Joenoes Supit mencontohkan bagaimana Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang hanya Rp 100 ribu dianggap penting oleh masyarakat. Padahal secara ekonomi, nilai Rp 100 ribu tidaklah terlalu besar. Gambaran ini mencerminkan bagaimana kondisi riil masyarakat.

“Indonesia ini, ada dua dunia, pertama dunia seminar dan kedua dunia riil,” kata Anton dalam diskusi tantangan krisis menghadapi perubahan politik di Megawati Institute, Jumat 1 Mei 2009.

Menurut Anton, secara seminar memang kondisi ekonomi tergambar bagus dan ada perbaikan dari tahun ke tahun, tapi secara riilnya tidak berubah. “Saya ketika kembali ke kampung asal, itu dari dulu saya kecil kondisi masyarakatnya tidak berubah sampai sekarang,” ujarnya. Artinya secara fisik bahwa perubahan mendasar ekonomi masyarakat tidak terlihat.

Anton mengatakan, BPS misalnya, mengklaim setiap pertumbuhan 1 persen, bisa menyerap 400 ribu. Saat ini angka pengangguran 10 juta dengan pengangguran baru selalu bertambah 2,5 juta sampai 3 juta. “Artinya setiap tahun jika pertumbuhan ekonomi 5-6 persen, jumlah pengangguran ini belum tertangani keseluruhan,” katanya.

Kebijakan lainnya yang belum dianggap baik misalnya seperti sektor pertanian yang belum mendapat perhatian serius. Ada sekitar 70 persen pekerja di sektor informal yang tidak punya jaminan bekerja yang pasti. Selain itu ada sekitar 70 juta penduduk yang penghasilannya hanya US$ 1-2 per hari.

“Mereka ini yang jumlahnya diperkirakan mencapai 100 juta penduduk, adalah masyarakat yang diandalkan untuk menggerakkan ekonomi. Tapi bagaimana bisa mengkonsumsi jika penghasilannya tidak menentu,” katanya.

Oleh karena itu, kata Anton, Apindo berharap pemerintah yang baru lebih memperhatikan potensi kemampuan Indonesia. Negara China adalah salah satu yang bisa ditiru. Ia mengatakan dengan belajar dan mengembangkan penelitian sekala sederhana untuk para petani di setiap propinsi, tingkat produksi petani China bisa lebih baik.

“Dibanding Indonesia, meski tanah pertaniannya sudah ribuan tahun ditanami, tapi hasilnya tidak kalah, sementara Indonesia yang baru ditanami tapi jumlah dan kualitasnya terus menurun,” katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s