Monthly Archives: Desember 2010

Beras Buat Rakyat Miskin Kini Sudah Habis dan Pemerintah Berencana Mewajibkan Rakyat Miskin Makan Gaplek

Meningkatnya jumlah konsumsi beras yang tidak diiringi dengan peningkatan produksi beras secara seimbang, menyebabkan pemerintah berencana untuk mengalihkan pemberian raskin (beras miskin) menjadi pangkin (pangan miskin) pada tahun 2011 mendatang.

Konsep pangkin ini sudah lama disuarakan pemerintah sebagai bentuk penganekaragaman pangan. Nantinya setiap bantuan pangan kepada masyarakat miskin tidak harus dalam bentuk beras, namun disesuaikan dengan makanan pokok wilayah setempat penerima subsidi pangan. Sebab, jika acuannya adalah pemenuhan kebutuhan karbohidrat, maka sesungguhnya tidak hanya beras yang menyediakan zat itu, tapi juga pangan lainnya seperti sagu, singkong, atau jagung.

“Kita mau kurangi makan nasi. Kita akan gencarkan di tahun 2011. Raskin tahun depan diganti pangkin,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Suswono saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian di Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (29/12) malam.

Ia menjelaskan, dalam program pangkin ini, salah-satu caranya adalah dengan menggalakkan konsumsi pangan khas daerah, seperti sagu dan singkong dan lain-lain.

“Untuk Maluku, kenapa harus raskin, kan bisa sagu. Atau bisa separuh-separuh, yakni dapat beras dan sagu. Pangan lokal perlu dihidupkan kembali. Misal singkong sudah jalan di beberapa daerah, seperti di Lampung dan Jatim. Ada percobaan yang siap diajukan Maluku (dengan sagu),” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian, Achmad Suryana juga mengatakan, Bulog sebagai penyalur raskin sebaiknya memang tak hanya memberikan beras kepada masyarakat miskin yang sudah terbiasa mengonsumsi pangan jenis lain seperti sagu, jagung, singkong, atau ganyong.

“Raskin dapat disesuaikan dengan makanan pokok masyarakat setempat. Artinya program pangan untuk masyarakat miskin, jenis pangannya tak harus berupa beras, bisa sagu, jagung, singkong, atau ganyong kalau itu memang makanan kebiasaan mereka,” katanya.

Sebenarnya, Kementerian Pertanian telah mewacanakan untuk mengombinasikan beras dalam raskin dengan bahan nonberas.

Bahkan, terkait usulan pengombinasian pangan dalam program raskin itu, awal Oktober lalu Mentan sudah mengirim surat ke tujuh gubernur yang wilayah dinilai bisa melakukan uji coba.

Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan BKP, Mulyono Machmur, menjelaskan, bantuan subsidi yang selama ini memakai beras justru kontraproduktif dengan upaya penganekaragaman pangan. “Dampaknya, dalam beberapa kasus masyarakat Indonesia Timur yang sebelumnya makanan pokoknya adalah sagu justru dengan adanya raskin, malah beralih ke beras,” katanya.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Divre Jatim Agusdin Fariedh menyatakan kesiapannya jika memang ada penugasan secara resmi dari pemerintah terhadap program pangkin sebagai variasi dari raskin yang selama ini sudah berjalan.

“Namun, perubahan ini juga harus didahului dengan sosialisasi yang intensif ke masyarakat, khususnya sasaran raskin. Ini agar mereka paham dan tak ada gejolak di kemudian hari,” kata Agusdin.

Ia melanjutkan, pangan nonberas ke masyarakat miskin diharapkan bisa berupa bahan yang sudah diolah setengah jadi. Ini agar lebih tahan lama.

“Misalnya singkong diolah menjadi gaplek atau tepung tapioka. Selain lebih awet, juga memiliki nilai lebih dibanding singkong yang belum diolah,” ujarnya.

Meski begitu, Agusdin juga mengingatkan bahwa tak selamanya harga bahan nonberas lebih murah. Pada musim-musim tertentu bahkan harga jual singkong mendekati atau sama dengan harga beras di pasar. “Ini juga perlu dicermati,” tandasnya

Kakek Rela Menjual Semua Miliknya dan Menterlantarkan Anak Istri Demi Menonton Tim Indonesia di Piala AFF

Kecintaan terhadap para punggawa timnas Indonesia di kancah AFF Suzuki Cup 2010 kali ini ternyata tak hanya milik masyarakat di perkotaan ataupun milik suporter kawula muda saja. Adalah Djama Ali, kakek berumur 60 tahun asal Pasuruan, Jawa Timur, yang mematahkan anggapan tersebut.

Kakek 10 cucu itu membuktikan cintanya kepada pasukan Garuda dengan datang langsung ke Senayan. Tak tanggung-tanggung, Djama “terpaksa” menjual 15 ekor ayam peliharaannya untuk biaya transportasi dari Pasuruan ke Jakarta.

Tidak hanya itu, upayanya untuk menyaksikan secara langsung aksi Firman Utina Dkk, juga membuatnya harus terlibat “perang dingin” dengan sang istri. Aksinya mengumpulkan uang dengan menjual seluruh ayam peliharaannya membuat pria humoris tersebut mendapat dampratan bertubi-tubi dari sang istri.

Tapi, Djama memang nekat. Keinginannya memberikan dukungan bersama puluhan ribu penonton di stadion membuatnya tidak perlu berpikir panjang untuk menjual ayam-ayam tersebut. Bahkan, saking buru-buru ingin mendapatkan uang, ia rela menjual murah ayam-ayam tersebut.

“Saya ndak punya uang mas. Jadi saya jual ayam saya yang 15 ekor. Rata-rata saya jual murah, 25.000 rupiah. Jadi dapet 750.000 rupiah. Buat ongkos bus kemarin habis 220.000,” ujar kakek tersebut saat ditemui di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (15/12/2010).

Djama mengaku, demi mendapat uang saku tambahan, tak segan-segan ia meminta sumbangan kepada teman-teman dekatnya.

Tak hanya itu, berada di kampung orang dan jauh dari rumah membuatnya harus berputar otak agar tidak kelaparan di Jakarta. “Saya kemarin malah ngemis-ngemis sama temen-temen. Lumayan dapat tambahan Rp 350.000,” ujarnya