Monthly Archives: Juli 2011

Ditemukan 17 Bayi Gizi Buruk di Malang

Di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih dapat ditemukan bayi penderita gizi buruk. Terbukti, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mendapati ada 17 bayi penderita gizi buruk di Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung.

Data tersebut diungkapkan penanggungjawab kelompok 14 KKN-UMM Fery Pratama. “Kami sangat prihatin melihatnya,” kata Fery, Jumat (22/7/2011).

“Sengaja kami membuat acara itu, karena kami gerah melihat kondisi kesehatan sebagian balita yang menderita gizi buruk. Acara itu digelar dengan menularkan pengetahuan tentang cara pemberian makan dan susu yang tepat pada ibu-ibu terutama yang mempunyai anak penderita gizi buruk,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Kepala seksi Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan, Kabupaten Malang, Riyanto, pihaknya mengaku akan melakukan pengecekan ke lokasi terlebih dahulu. “Kalau belum mengecek, kami belum bisa mengatakan kasus temuan mahasiswa itu murni gizi buruk atau tidak,” katanya.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Malang, HM Fauzi, angka kelahiran di Kabupaten Malang mencapai 200 ribu bayi per tahun. “Dari angka kelahiran itu, memang masih ada bayi yang kurang gizi. Namun, jumlah bayi kurang gizi itu di bawah satu persen dari angka kelahiran,” kilahnya.

Iklan

Matius Buta Karena Cacar dan Kini Hidup Menyendiri Di Dalam Hutan Selama 20 Tahun

Serangan penyakit cacar menyebabkan Matius (54) kehilangan penglihatan sejak 20 tahun lalu. Namun, keterbatasan fisik itu tidak membuatnya bergantung pada orang lain. Berbekal keterampilan memanjat kelapa dan membuat dinding anyaman kulit nipah, duda paruh baya itu hidup menyendiri di hutan. Jerih payahnya itu menghasilkan uang tak lebih dari Rp 20.000 per hari. Dengan itulah dia menopang kehidupannya sehari-hari.

Matius, warga Kampung Salurang, Kelurahan Sulewatang, Kecamatan Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ini tinggal di sebuah gubuk tua yang dibangun di tengah hutan nipah.

Sejak kedua matanya buta, Matius menekuni profesi sebagai tukang panjat kelapa. Jika sepi order karena tak ada tetangga yang membutuhkan jasa panjat kelapa, Matius mencari nafkah dengan cara lain, yakni menjadi perajin dinding dari kulit nipah.

Keterampilan menganyam itu dipelajarinya sendiri. Dia bisa membuat berbagai variasi anyaman yang cantik. Dalam sehari Matius bisa menghasilkan sampai empat dinding nipah yang siap dijual.

Harga per lembarnya Rp 12.000-Rp 15.000. “Kadang-kadang menumpuk di kolong rumah karena tidak laku-laku sampai seminggu,” kata Matius.

Dinding anyaman karya Matius tidak hanya dibeli warga Polewali Manda. Banyak juga warga Mamasa dan Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, membelinya.

Seluruh proses pembuatan selembar dinding nipah berukuran 1,5 x 3 meter persegi dikerjakan Matius seorang sendiri, mulai dari mengambil bahan baku pelepah nipah yang tumbuh di sekitar gubuknya, membelah pelepah nipah, hingga menganyam menjadi selembar dinding nipah.

Mahir bermain gitar dan piano, Matius pernah membentuk sebuah band yang dinamai Irama Band. Band ini cukup populer dan digemari masyarakat Mamasa, kampung halamannya. Namun, band itu bubar sejak dia menjadi buta.

Meskipun tidak lagi menjadi pemain band, lelaki yang bercerai dengan istrinya 20 tahun silam itu tetap senang memainkan gitar tua pemberian seorang temannya di saat remaja dulu. Kadang-kadang ada tetangga yang singgah untuk sekadar mengobrol.

Menyadari keterbatasan fisiknya, Matius tak mempunyai impian muluk. “Saya hanya berharap dinding anyaman buatan saya laris manis dan makin dikenal orang. Supaya urusan membeli beras dan lauk pauk tidak perlu berutang kepada tetangga,” kata lelaki pendiam, tetapi ramah itu.