Matius Buta Karena Cacar dan Kini Hidup Menyendiri Di Dalam Hutan Selama 20 Tahun

Serangan penyakit cacar menyebabkan Matius (54) kehilangan penglihatan sejak 20 tahun lalu. Namun, keterbatasan fisik itu tidak membuatnya bergantung pada orang lain. Berbekal keterampilan memanjat kelapa dan membuat dinding anyaman kulit nipah, duda paruh baya itu hidup menyendiri di hutan. Jerih payahnya itu menghasilkan uang tak lebih dari Rp 20.000 per hari. Dengan itulah dia menopang kehidupannya sehari-hari.

Matius, warga Kampung Salurang, Kelurahan Sulewatang, Kecamatan Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ini tinggal di sebuah gubuk tua yang dibangun di tengah hutan nipah.

Sejak kedua matanya buta, Matius menekuni profesi sebagai tukang panjat kelapa. Jika sepi order karena tak ada tetangga yang membutuhkan jasa panjat kelapa, Matius mencari nafkah dengan cara lain, yakni menjadi perajin dinding dari kulit nipah.

Keterampilan menganyam itu dipelajarinya sendiri. Dia bisa membuat berbagai variasi anyaman yang cantik. Dalam sehari Matius bisa menghasilkan sampai empat dinding nipah yang siap dijual.

Harga per lembarnya Rp 12.000-Rp 15.000. “Kadang-kadang menumpuk di kolong rumah karena tidak laku-laku sampai seminggu,” kata Matius.

Dinding anyaman karya Matius tidak hanya dibeli warga Polewali Manda. Banyak juga warga Mamasa dan Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, membelinya.

Seluruh proses pembuatan selembar dinding nipah berukuran 1,5 x 3 meter persegi dikerjakan Matius seorang sendiri, mulai dari mengambil bahan baku pelepah nipah yang tumbuh di sekitar gubuknya, membelah pelepah nipah, hingga menganyam menjadi selembar dinding nipah.

Mahir bermain gitar dan piano, Matius pernah membentuk sebuah band yang dinamai Irama Band. Band ini cukup populer dan digemari masyarakat Mamasa, kampung halamannya. Namun, band itu bubar sejak dia menjadi buta.

Meskipun tidak lagi menjadi pemain band, lelaki yang bercerai dengan istrinya 20 tahun silam itu tetap senang memainkan gitar tua pemberian seorang temannya di saat remaja dulu. Kadang-kadang ada tetangga yang singgah untuk sekadar mengobrol.

Menyadari keterbatasan fisiknya, Matius tak mempunyai impian muluk. “Saya hanya berharap dinding anyaman buatan saya laris manis dan makin dikenal orang. Supaya urusan membeli beras dan lauk pauk tidak perlu berutang kepada tetangga,” kata lelaki pendiam, tetapi ramah itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s