Category Archives: Bekasi

Puluhan Tukang Sapu Pegawai Dinas Kebersihan Bekasi Minta Upah Yang Sesuai UMR

Puluhan pesapon (tukang sapu) di bawah Dinas Kebersihan dan Pasar Kabupaten Bekasi, berharap bisa mendapatkan upah minimal setara dengan UMK (Upah Minimum Kabupaten) sebesar Rp1.08.000/bulan.

Pesapon yang jumlahnya 77 orang tersebut, saat ini hanya menerima upah bersih Rp15.000/hari, tanpa uang makan dan transpor. Jumlah tersebut, dirasakan sangat jauh untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Kebersihan dan Pasar Kabupaten Bekasi, Drs Andung Adi Putranto, MM, Kamis (11/12), yang dikonfirmasikan Pos Kota, mengaku memahami keinginan pesapon tersebut. Pihaknya, akan meneruskannya ke bupati.

Orangtua Tak Sanggup Bayar Rumah Sakit, Bayi Meninggal – Janji Pemerintah Tinggal Janji Atau Memang Pembohong Akut

Tragedi yang menimpa keluarga miskin seperti cerita tanpa episode akhir. Sebuah keluarga harus kehilangan putra tercintanya yang baru berusia 5 bulan lantaran tak kuat membayar biaya rumah sakit yang selangit.

Muhamad Renaldi, 5 bulan, meninggal dunia di rumahnya Gang Tanjung RT06/04, Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (31/10) pagi.

Bayi itu pulang dari Rumah Sakit Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (30/10) petang, setelah dirawat selama 29 hari di rumah sakit tersebut karena sakit panas.

Kepulangan Renaldi sebenarnya bukan atas kemauan keluarga. Namun mereka terpaksa membawa pulang buah hatinya setelah pihak rumah sakit menyodorkan biaya rumah sakit sebesar Rp20 juta.

Bagi Ny. Hariyati, 26, ibu Renaldi, angka itu hampir mustahil dipenuhi, meski cuma membayar 50 persennya saja. Apalagi sang suami kini tak tahu di mana keberadaannya. Hariyati dan bayinya selama ini hanya menggantungkan hidupnya pada Ny. Nani, 43, dan Asih Asmadi, 45, orangtuanya yang cuma seorang pengojek motor.

Melihat biaya yang selangit itu, pihak keluarga memutuskan membawa pulang Renaldi. “Dokter memang menyatakan cucu saya sudah membaik dan bisa dirawat jalan. Tapi saat itu suhu badannya sesungguhnya masih panas dan kondisinya lemah. Yah kami mau bagaimana lagi. Sebenarnya berat untuk membawanya pulang tapi kami tak punya uang,” keluh Nani.

Setelah sang cucu berada di rumah, suhu badannya makin tinggi dan terus menangis. “Esok paginya Renaldi menghembuskan nafas terakhir di pelukan ibunya,” ungkap Nani.

Nani mengakui saat ini pihak RS masih menahan KTP orang tua korban dan suaminya sebagai jaminan. Sebab, kata Nani, jika tidak ada jaminan berupa KTP atau BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) pasien tidak boleh pulang. ”Entah bagaimana kami harus membayarnya. Sedang untuk bayar uang DP saja kami harus minjam tetangga dan belum bisa dilunasi,” keluh Nani.

RS HAJI BANTAH MENGUSIR
Pihak RS Haji membantah telah mengusir pasien. Bayi itu dipulangkan karena kondisinya sudah membaik. “Kalau terus di rumah sakit justru ia bisa kena penyakit lain karena banyak pasien lainnya,” kata dr. Eli yang menangani sakitnya Renaldi.

Menurutnya, saat datang, bayi lima bulan itu dalam kondisi parah. Berat badannya 4,5 kilo, diare, berak darah dan hasil rontgen menunjukkan sakit paru-paru parah yang ditunjukkan dengan kedua paru-paru berwarna putih. Selain itu, sel darah putih mencapai 54.000 dari kondisi normal 10.000 hingga 15.000. Bayi itu juga menderita gizi buruk.

Diakuinya, ketika pulang bayi itu beratnya 4,1 kilo. Namun, panas tubuhnya 37 derajat dan sudah tak diare atau berak darah lagi. Sel darah putihnya turun menjadi 19.000 dan Hb-nya yang semula 9 menjadi 12,8. “Melihat bayi itu datang dan bisa pulang dalam keadaan lebih baik saya sangat bersyukur.”

Melihat perkembangan kesehatan bayi tersebut, Eli menduga bayi itu meninggal mendadak karena tersedak hingga masukan oksigennya terhanggu dan bisa mengakibatkan kejang. “Masalah tersedak ini yang biasa menyebabkan bayi meninggal mendadak.”

Selama perawatan, sambung dia, keluarga bayi tak pernah diberikan resep sehingga tak perlu mencari obat sendiri. Segala kebutuhan obat hingga susu kedelai diberikan rumah sakit.

Sedangkan Inuthiah, Kepala Bagian Perawatan RS Haji, mengatakan bayi itu bukan pasien Gakin yang bisa seratus persen gratis. Perawatan 20 hari dengan dua kali masuk ruang ICU selama 3 hari, biayanya mencapai Rp 20 juta.

Seminggu setelah perawatan, keluarga bayi baru menyatakan dari keluarga tak mampu. Merekapun memberikan surat keterangan tak mampu (SKTM). Dengan SKTM ini, Dinas Kesehatan DKI melalui Puskesmas akan melihat keluarga itu untuk menentukan besar biaya yang harus ditanggung pasien. Ketika keluar rumah sakit, keluarga diingatkan untuk membayar semampunya. “Dengan SKTM besar biaya yang harus dibayar bukan kami yang menentukan,” ujarnya. “Bisa saja Dinas Kesehatan menilai keluarga itu bisa membayar 20 persen, 50 persen atau bahkan tidak sama sekali.”

Kepala Subdin Pemasaran Sosial dan Informasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Tini Suryanti, yang dihubungi mengaku belum mendapatkan informasi adanya kasus ini. “Saya akan melakukan pengecekan, jika benar terjadi maka akan kami berikan sanksi tegas.”

Sanksi akan diberikan mulai dari surat teguran hingga pemecatan. Apalagi hingga menyebabkan pasien yang bersangkutan meninggal dunia. “Dinkes dapat merekomendasikan ke Depsos unutk melakukan pemecatan terhadap oknum itu jika nantinya terbukti bersalah.”

BOCAH TERSERANG TUMOR GANAS
Di Bogor bayi berusia tiga bulan kini bergelut dengan tumor ganas yang menyerang bagian kepala dan hidungnya. Tumor ganas itu terus membesar hingga menutupi mata sang bocah.

Bayi malang itu, Muhamad Refandi Permana, kini hanya bisa menangis. Kedua orangtuanya yang miskin tidak berdaya untuk memberinya perawatan medis yang memadai. Yusuf, 26, dan istrinya, Yeni, 24, kedua orangtua Refandi, hanya bisa pasrah sambil berharap uluran tangan dermawan.

Refandi memang pernah mendapat perawatan di RSD Ciawi. Menurut dokter yang menangani, sang bocah menderita proptosis os ec susp encephalocele atau tumor ganas. “Saya pasrah dengan kondisi anak saya. Doa saya, semoga ada yang menolongnya,” ujar Yeni yang saat ini tinggal di RT 02/ 02 Desa Bitungsari Kecamatan Ciawi

Penanganan Kasus Gizi Buruk Masih Sebatas Wacana dan Janji Surga

Sebanyak 3.787 anak balita di DKI Jakarta mengalami gangguan pertumbuhan, termasuk kurang gizi dan gizi buruk. Meski kualitas kesehatan anak-anak itu terindikasi buruk, program perbaikan gizi melalui pemberian makanan tambahan masih terbatas sehingga ada anak yang terpaksa dirawat intensif di rumah sakit.

Demikian dikatakan Kepala Seksi Gizi Komunitas pada Dinas Kesehatan DKI Jakarta Elisbatti, Kamis (17/4) di Jakarta.

Elisbatti mengatakan, para pasien anak yang mengalami gizi buruk itu dirawat di tujuh rumah sakit berbeda. ”Semuanya dibebaskan dari biaya perawatan rumah sakit tanpa harus menunjukkan surat keterangan tanda miskin,” katanya.

Sementara itu, bagi anak-anak yang menderita kurang gizi, kata Elisbatti, pihaknya menyediakan program makanan tambahan pemulihan (PMTP). Program ini, misalnya, berupa pemberian bubur bayi dan susu, dikoordinasi oleh puskesmas setempat.

Di tempat terpisah, Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat, Kamis kemarin, menyerahkan bantuan Rp 100 juta untuk perbaikan gizi anak kepada Pemkot Jakarta Utara. Bantuan itu diterima Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Utara Paripurna Harimuda, disaksikan Wakil Wali Kota Jakarta Utara Syafruddin Putra.

”Upaya-upaya perbaikan gizi anak memang harus terus dilakukan. Selain dengan pemberian makanan tambahan juga perlu ada pembentukan pos gizi dan kelompok air susu ibu,” kata Safruddin Putra.

Gizi buruk di Kota Bekasi

Dinas Kesehatan Kota Bekasi menyebutkan, dari kira-kira 177.000 anak balita di wilayah itu terdapat 15.066 anak balita yang mengalami rawan gizi. Bahkan, sebanyak 735 anak balita di antaranya sudah dikategorikan sebagai penderita gizi buruk.

Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad berjanji, jajaran dinas kesehatan dan seluruh kader posyandu diminta aktif memantau kondisi kesehatan dan gizi keluarga, terutama anak-anak. Pemkot Bekasi sudah mencanangkan peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk perbaikan gizi anak balita.

Status gizi 15.066 anak balita di Kota Bekasi itu diketahui pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi dari hasil penimbangan anak balita Agustus 2007. Menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bekasi Anne Nurcandrani, sebanyak 735 anak balita terindikasi menderita gizi buruk. Sisanya, 14.331 anak balita, mengalami gizi kurang.

Anak balita yang mengalami rawan gizi itu tersebar di 12 kecamatan di Kota Bekasi, dan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Bekasi Utara dan Kecamatan Jatiasih. Di Kecamatan Bekasi Utara terdapat 156 anak balita yang mengalami rawan gizi, sementara di Kecamatan Jatiasih terdapat 107 anak balita yang mengalami rawan gizi.

Dinkes Kota Bekasi mencanangkan PMTP selama 90 hari bagi 500 anak balita yang menderita gangguan gizi buruk.

Kemiskinan Di Bekasi Bertambah Parah

BEKASI – Kemiskinan di Bekasi disebabkan banyak permasalahan yang kompleks, semisal peralihan lahan dari pertanian menjadi kawasan industri dan real estate, musnahnya ribuan hektar sawah yang gagal panen, juga musibah bencana alam khususnya yang menimpa warga di pesisir pantai Cabangbungin, Muaragembong dan Tarumajaya.

Warga pesisir yang turun temurun mengandalkan mata pencaharian sebagai nelayan, sudah sejak beberapa tahun ini tak lagi melaut lantaran langka dan mahalnya bahan bakar solar. “Lebih besar biaya operasional ketimbang hasilnya sedangkan solar bersubsidi kebanyakan dijual oleh petugas ke industri besar,” aku Nisan, warga Desa Pantai Makmur, Tarumajaya, Bekasi.

Nisan seperti halnya sejumlah warga lainnya di belahan pesisir pantai, terpaksa harus mengencangkan ikat pinggang, makan cuma sekali sehari. Sektor pertanian kini tak lagi bisa menjadi gantungan hidup. “Banyak saluran air yang sudah jebol dan ditutup karena pembangunan pabrik dan real estate” ungkap Nana tokoh warga yang juga aktivis ALU (Aliansi Utara) ini.

Kabag Sosial Pemkab Bekasi, Drs Abdurofiq, mengaku tidak pernah ada anggaran untuk itu. Bantuan yang dikoordinasikan bagian sosial, sebut Rofiq, paling-paling terhadap bencana alam.