Category Archives: Bogor

Dua Anak Warga Kampung Bubulak Bogor Menderita Gizi Buruk

Dua bocah warga Kampung Bubulak, Kelurahan Tegalgundil, Kecamatan Bogor Utara, menderita gizi buruk.

Kedua bocah itu, Maessaroh,12 bulan dan Yudis,7, kondisinya sangat kurus bahkan kedua tangan dan kaki mengecil.

Tak hanya itu, rumah warga yang tinggal di Kelurahan Tegalgundil ini sangat memprihatinkan. Kondisinya tak karuan, terletak di pinggiran sungai dan sudah terbelah, baik tembok maupun gentingnya.

Sang ibu, Upi Sopian mengungkapkan, kedua anaknya hanya makan dua kali dalam sehari.

Soal bantuan yang diberikan pihak kesehatan, Upi menjelaskan bantuan berupa makanan sering diterimanya. “Bantuan pernah kita terima dari puskesmas,” ujarnya.

Pihak puskesmas saat dikonfirmasi karena umurnya lebih dari lima tahun, maka itu sudah bukan kewenangan posyandu.

“Kedunya masuk kategori gizi kurang dan kita aktif mendampingi mereka, bahkan kita ajak keluarganya hingga ke PMI untuk pemeriksaan,” kata Sari.

HALUSINASI IBU
Dokter Klinik Puslitbang Gizi Bona Simanungkalit yang memeriksa kedua bocah itu mengatakan, sama sekali tidak menderita gizi buruk.

“Keduanya hanya salah gizi, karena kondisi ibunya yang mengalami halusinasi dengar dan halusinasi lihat sehingga tak mampu mengurus,” katanya.

Agar kedua bocah itu dapat terawat dan asupan gizinya terpenuhi maka perlu juga penanganan terhadap ibunya.

“Jadi kalau ibunya tidak ditangani serius, bagaimana kedua anaknya bisa diasuh dengan baik,” ujarnya.

Akibat Kurang Makan Banyak Warga Bogor Numpang Makan Pada Kondangan Dengan Modal Uang Seribu dan Baju Batik

Jika perut butuh makan, dan terdesak, ada saja orang punya akal untuk mendapatkannya. Ini terjadi di Bogor. Dengan modal hanya seribu rupiah, orang bisa makan sepuasnya. Tentu, modus ini jangan ditiru….

Ini kisah Eddy (bukan nama sebenarnya), dengan setiap kali hanya bermodal uang seribu rupiah dimasukkan ke dalam amplop, plus sedikit pakaian batik yg rapi, ia sudah bisa makan enak.

”Itu saja modalnya. Selanjutnya menuju ke tempat pesta pernikahan yang dilaksanakan di gedung pertemuan yang mewah,” ujar Eddy sambil senyum, menuturkan ”kebiasaan buruknya” jika terdesak butuh makan.

Biasanya, Eddy dengan tenangnya menandatangani buku tamu. Amplop berisi uang Rp 1.000 yang telah disiapkan kemudian dimasukkan ke dalam kotak yang tersedia. Lalu dengan tenang melangkah ke dalam gedung. Berputar-putar sejenak, kemudian menuju ke meja hidangan tanpa perlu salaman dengan pengantin dan orangtuanya. Setelah kenyang menikmati hidangan yang enak, selanjutnya melenggang keluar gedung. ”Kenyang deh, hanya dengan uang Rp 1.000,” kata Eddy….

Orang yang ”numpang makan” seperti Eddy ini acap kali muncul di tempat pesta pernikahan yang biaya sewa gedungnya puluhan juta rupiah selama tiga-empat jam seperti di Jalan Raya Pajajaran, Bogor.

Mereka tak bisa dicegah. Karena, penjaga tamu tak akan pernah menanyakan surat undangan kepada tamu yang datang. Tidak seperti kalau hadir pada acara seminar, yang harus menunjukkan bukti pembayaran atau bayar di tempat dan kemudian ditukar tas yang berisi makalah.

Warga daerah Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, yang belum lama ini menikahkan anaknya, akhir Oktober lalu, mengungkapkan ia menemukan belasan amplop masing-masing berisi uang Rp 1.000 masuk dalam kotak sumbangan.

”Jangan-jangan, kena deh gua,” katanya dengan nada sedikit kesal atas ulah orang-orang yang numpang makan di kondangan ini. Dan amplop-amplop berisi uang seribuan itu pun diremas lalu diempaskannya ke lantai.

Balita Gizi Buruk Di Bogor Alami Gangguan Paru Paru

Seorang balita berusia 25 bulan menderita marasmus (gizi buruk). Balita itu bernama Annisa warga Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Bogor.

“Kami menerima rujukan dari Puskesmas Citeko untuk menangani bayi tersebut,” ujat dr. Bona Simalungkalit, yang menangani klinik di Puslitbang Gizi Bogor.

Dikatakan, bayi seberat 6,3 kg ini, juga mengalami gangguan paru-paru dan polidactily (jari tangan lebih dari lima ). Bayi ini menunjukan gejala-gejala marasmus seperti kurus, cengeng, rambut tipis, pantat dan ketiak kendur, keriput dan apatis.

Kendati dari pengakuan ibu Anisa, Yusi, anaknya tidak sulit makan, tapi kata dr. Bona pertumbuhannya tidak seimbang antara tinggi dan berat badan karena pola makan yang kurang.

Pengakuan ibu Anisa, Yusi, anaknya mengalami berat badan lahir rendah. “Tapi anak saya nggak susah makan,“ ungkapnya. Ibu dua anak ini menuturkan jika dirinya baru pertama kali ke Puslitbang Gizi. Itupun dibawa petugas puskesmas di tempat tinggalnya.

Gelandangan dan Pengemis Serbu Jakarta dan Bogor Selama Bulan Puasa

Kota Jakarta dan Bogor kembali diserbu gelandangan dan pengemis. Kehadiran para penyandang masalah kesejahteraan sosial atau PMKS ini kembali marak saat memasuki bulan puasa hingga hari Selasa (2/9). Diperkirakan jumlah mereka yang terdiri dari anak-anak, dewasa, dan orang usia lanjut ini semakin banyak sampai menjelang hari Lebaran.

”Saat ini kami perkirakan jumlah meningkat 20 persen dan akan naik lagi 20 persen menjelang Lebaran. Mereka datang dari luar Kota Bogor,” kata Kepala Seksi Penegak Perda Kota Bogor Dinas Satuan Pamong Praja Faridz Wahdy, Selasa kemarin.

Mereka menempati perempatan jalan, ikut masuk dalam angkutan kota sekitar pusat perbelanjaan, masjid, dan permukiman penduduk untuk mengais rezeki dari amal.

Ipul (11), pengamen anak dalam bus Koantas Bima 102 jurusan Ciputat-Tanah Abang yang mengamen bersama empat anak lainnya, mengatakan, dia baru dua minggu datang dari Indramayu. Namun, dia tidak mau bercerita lebih banyak lagi.

Sejumlah pengamen anak- anak yang berkeliaran di Jalan Asia Afrika, Jakarta Pusat, langsung berhamburan setelah melihat seseorang yang memegang kamera. ”Lari…! Ada yang bawa kamera,” kata salah seorang pengamen perempuan.

Dinas Bina Mental Spiritual dan Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta mencatat 53 daerah rawan PMKS. Ke-53 daerah itu tersebar di 10 daerah di Jakarta Pusat, 8 di Jakarta Utara, 9 di Jakarta Barat, 13 di Jakarta Selatan, dan 13 di Jakarta Timur.

137 Balita Di Rumpin Menderita Gizi Buruk

Sebanyak 137 balita di Kecamatan Rumpin menderita gizi buruk sejak enam bulan terakhir. Sedangkan yang mengalami kekurangan gizi sebanyak 1.130 balita.

“Tinggi angka gizi buruk di Kecamatan Rumpin sudah melebihi standar Depkes,” ujar Kepala UPTD Puskesmas Rumpin, Anang Sujuna.

Dikatakan, standar yang ditetapkan Depkes maksimal 1 persen dari seluruh balita di kecamatan, sedangkan di Rumpin sudah 1,2 persen. “Jumlah ini sudah mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1,5 persen,” katanya.

Selain faktor kemiskinan, rendahnya pendidikan masyarakat juga menjadi salah satu penyebab terus meningkatnya angka tersebut.

Pemberian makanan tambahan rutin dilakukan Klinik Gizi Rumpin tapi justru dijual oleh masyarakat. Faktor budaya konsumsi masyarakat serta politis juga berpengaruh, seperti penentuan anggaran kesehatan atau rehabilitasi gizi buruk.

Selama dua bulan terakhir, klinik gizi Rumpin belum menunjukkan hasil maksimal karena standar pemulihan pasien gizi buruk membutuhkan waktu 90 hari.

Penyapu Jalanan Tewas Kelaparan Karena Gaji Sebagai Pegawai Pemerintah Tidak Mencukupi Untuk Makan

Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak seiring kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memunculkan beragam kisah pilu. Seorang penyapu jalan tewas di pinggir jalan Sukasari, Bogor Timur, Selasa (3/6) siang.

Diduga, Adin, 46, petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor, itu meninggal dunia karena kelaparan. Ia hanya makan satu kali sehari karena harus berbagi dengan ketiga anaknya.

Sebagaimana dituturkan Neglasari, 40, istri Adin, di RSUD PMI Bogor tempat jasad sang suami diotopsi, korban meninggal akibat menahan lapar sejak malam.

Menurut Neglasari sejak kenaikan BBM yang dibarengi dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok, ia dan suaminya kelabakan mengatur pendapatan bulanan yang hanya Rp750 ribu.

Jumlah yang sangat minim ini harus diatur sehemat mungkin agar bisa menyisihkan dana untuk biaya sekolah dua dari tiga anaknya. “Biaya hidup dengan tiga anak sangat tidak mencukupi dengan gaji hanya Rp750 ribu sebulan,” kata Neglasari saat berada di ruang forensik rumah sakit.

CUMA MINUM AIR PUTIH
Warga Kampung Cibitung RT 02/07, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bogor, ini mengaku untuk bisa bertahan hingga gajian bulan berikutnya, terkadang mereka makan sehari sekali. Bahkan jika makanan yang tersedia tidak mencukupi untuk semua, ia dan suaminya terpaksa cuma minum air putih.

“Dengan gaji suami, kami bisa bertahan hingga dua minggu lebih. Selebihnya, sudah morat-marit. Untuk bertahan agar anak-anak tidak kelaparan, kami makan sehari sekali. Kadang diselipkan dengan rebus singkong dan daunnya yang saya minta dari warga,” paparnya.

Kepergian sang suami, diakui ibu tiga anak ini, akibat sejak malam tidak makan. Menu yang seharusnya untuk sang suami, terpaksa dibagikan ke tiga anaknya yang mengaku sedang lapar.

Bahkan sebelum berangkat kerja, korban sempat mengeluh sakit pada bagian perutnya.

“Saya pikir sakit biasa. Rupanya sakit itu, pertanda lapar sejak malam,” ujar sang istri sambil menambahkan dirinya tidak sempat keluar minta singkong ke tetangga untuk makan suami karena waktu sudah malam.

Program Penanggulangan Kemiskinan Pemerintahan SBY Di Bogor Gagal Total

BOGOR – Penanggulangan kemiskinan yang dilakukan Pemkot Bogor dinilai anggota dewan gagal. Sebab tidak tercapainya misi yang dilakukan dengan indikator Program Pengentasan Kemiskinan Perkotaan (P2KP), sehingga penanggulangan kemsikinan hanya sebatas proyek semata.

“Kami menilai Pemkot Bogor gagal karena dana yang digulirkan dalam P2KP itu mengalami kemacetan 92,3 persen dari dana Rp16 miliar sehingga pengentasan kemiskinan hanya menghambur-hamburkan duit,” kata anggota Komisi D DPRD Kota Bogor Ani Sumarni.

Dana miliaran rupiah buat anggaran kemiskinan sejak 2005 terus naik dari Rp7 miliar menjadi Rp9,2 miliar pada 2006 dan Rp9,5 miliar pada 2007. Jika dilihat dari persentase kenaikan justru berkurang.

“Angka kemiskinan melonjak, tapi persentase anggaran justru dikurangi,” katanya. Dia menilai penanggulangan kemiskinan tidak disikapi serius oleh Pemkot Bogor.

Hal sama juga dilontarkan Ketua Pansus LKPj 2007 Najamudin yang menyatakan program ini memiliki nilai merah. “Tahun 2007 angka kemiskinan turun tiga persen, kenyataannya kemiskinan meningkat,” kata anggota dewan ini.

Berdasarkan LKPj 2007 angka kemiskinan 41.398 KK dan turun 7.920 KK, tapi terdapat angka kemiskinan baru 10.000 KK, yang secara substansi naik 1.080 KK.