Category Archives: Jakarta

Abdul Malik Tenaga Kerja Lepas Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Hidup Di Gorong Gorong

Jakarta dengan segala gemerlapnya bisa menerbangkan impian seorang Abdul Malik (25). Dengan nekat, pria berijazah SD ini merantau ke ibukota yang sering disebut ‘lebih kejam daripada ibu tiri’ ini. Abdul melakoni hidupnya dari kolong jembatan ke gorong-gorong.

Pria kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, pada tahun 1987 ini sudah meninggalkan tanah kelahirannya 6 tahun lalu, tanpa sanak saudara menyertai atau yang bisa ditumpangi. Karena berijazah SD, tak ada yang berminat menerima Abdul Malik.

Lantas, Abdul memilih berjuang hidup dari memulung sampah selama 2 tahun di kawasan Rasuna Epicentrum, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Selama memulung, penghasilan Abdul hanya cukup untuk makan. Bayangkan, rutinitas memulung itu dilakoninya sejak magrib hingga pukul 12 tengah malam.

Abdul tak lantas menjual hasil pulungannya, melainkan mengumpulkannya lebih dulu. Dua hari memulung, Abdul mendapatkan hasil 2 kilogram yang lantas dijualnya ke pengepul. Rp 15 ribu pun dikantongi.

Karena hanya cukup untuk makan, Abdul tak memiliki uang lebih untuk menyewa tempat tinggal yang layak. Sehari-hari Abdul hidup di kolong jembatan dekat Gedung KPK, beralaskan kardus.

Suatu hari, ada seorang mandor bangunan iba melihat Abdul yang memulung sampah. Lantas sang mandor menawarkan pekerjaan menjadi tenaga harian lepas Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.

“Wah mau sekali saya, yang penting rezeki itu halal,” ujar Abdul Malik kala mendapat perkerjaan itu, saat ditemui detikcom, Sabtu (16/6/2012) malam.

Sebagai tenaga harian lepas Dinas PU, Abdul membersihkan saluran-saluran di Kali Cideng yang mampet. Air kali yang hitam dan kotor tidak dipedulikan Abdul demi untuk mengais rezeki, membersihkan saluran dari sampah plastik hingga bangkai tikus. Dari pekerjaan ini, Abdul memperoleh Rp 40 ribu per hari.

Suatu saat membersihkan Kali Cideng, dia melihat ada gorong-gorong tempat saluran pembuangan dari apartemen. Mulanya, Abdul menggunakan gorong-gorong ini untuk tempatnya mandi.

“Mandinya tiap malam, pakai celana doang, nggak kelihatan kalau lagi mandi. Gatal-gatal sih sudah biasa, ya kondisinya memang seperti ini, mau bagaimana lagi,” jelas Abdul.

Lantas Abdul mengamati lama-lama gorong-gorong ini tak digunakan lagi alias mati. Abdul pun memutuskan pindah hunian dari bawah kolong jembatan ke gorong-gorong di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan.

“Kalau di bawah jembatan, kalau hujan suka kebanjiran, terus kalau malam dingin banget,” sambungnya.

“Sudah hampir satu tahun saya tinggal di sini, setidaknya gorong ini lebih baik dibandingkan tempat tinggal saya sebelumnya,” tutur Abdul.

Pantauan detikcom, gorong-gorong yang ditempati Abdul itu berupa tabung berdiameter 70 cm dengan panjang 3 meter. Gorong-gorong ini persis terletak di bantaran Kali Cideng.

Iklan

Hadiani, Janda Tua Punguti Sisa Beras Di Tanah Pasar Induk Cipinang Untuk Menghidupi 5 Orang Cucunya

Mentari bersinar terik ketika satu persatu truk pengangkut beras memasuki Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Selasa siang itu.

Puluhan buruh angkut sigap berdiri begitu truk menepi di depan toko. Membuka terpal yang menutupi dan pintu belakang truk. Satu persatu karung beras mereka angkut dari truk ke dalam toko.

Hadiani (66) hanya bisa berdiri dan menatap para buruh yang tengah mengangkut beras itu.

Tangan kirinya memegang sapu lidi, tangan kanannya menggenggam pengki. Di punggungnya melilit kain yang dijadikannya sebagai pengganti tas.

Begitu buruh-buruh angkut itu selesai bekerja, nenek lima orang cucu ini dengan cekatan menyapu beras yang menjatuhi jalanan. Tak dipedulikannya terik sinar mentari.

Dengan tekun dikumpulkannya butir-butir beras yang bercampur dengan tanah jalanan. Kemudian dia masukkan ke kantong plastik yang disandangnya.

Sesekali tangannya mengusap keringat yang menetes di wajah penuh kerutan itu. Kelelahan tergambar jelas di wajahnya. Hadiani tak peduli. Dia terus bekerja hingga tak ada lagi beras di jalan.

Hadiani adalah satu dari ratusan pengumpul beras di Pasar Induk Beras Cipinang.

Ada pengumpul beras yang mengumpulkan ceceran beras di lantai toko. Biasanya mereka ini sudah mendapat izin dari pemilik toko.

Ada juga yang mengumpulkan beras yang berceceran di jalan. Mereka ini disebut pengumpul liar.

Hadiani adalah satu dari ratusan pengumpul liar di pusat penampungan beras asal dari daerah penghasil beras di pulau Jawa itu.

“Kalau yang berceceran di toko itu tidak boleh dipunguti karena sudah ada orangnya, jadi cuma boleh memunguti beras yang ada di jalan,” ujar perempuan asal Semarang ini.

Dia kumpulkan beras-beras tercecer itu, kemudian dia pisahkan dari pasir. Lalu dijualnya. Setiap hari, ia bisa mengumpulkan delapan liter beras yang dijualnya dengan harga Rp3.000 per liter.

“Biasanya beras itu bukan untuk dimakan, tapi untuk makan ayam,” jelas dia.

Hadiani melakoni pekerjaan ini sejak enam tahun lalu, sejak anak semata wayangnya, Budiman, meninggal dunia meninggalkan lima anak yang adalah juga cucu Hadiani.

Bukannya bertanggung jawab mengasuh anak-anaknya, sang menantu malah meninggalkan mereka untuk kabur bersama lelaki lain.

Sejak itu, Hadiani mengambilalih semua tanggung jawab, termasuk menyekolahkan kelima cucunya; Haryanto (17), Haryono (15), Haryadi (13), Harsono (11), dan Haryani (9).

Awalnya, ia bingung mau bekerja apa. Sebelumnya perempuan yang merantau ke Jakarta sejak 1971 ini menjadi pembantu rumah tangga.

Namun di usianya yang mencapai kepala tujuh, ia tidak mampu melakoni dengan baik profesi ini.

“Kalau jadi pembantu tidak kuat, kakinya sudah sakit-sakitan,” kata perempuan yang menjanda sejak tahun 1995 itu.

Hingga kemudian temannya mengajaknya mengumpulkan beras di Pasar Induk Beras Cipinang.

Mau tidak mau dia harus banting tulang demi menghidupi cucu-cucunya dengan memunguti beras yang berceceran di pasar induk itu. Untuk ini pun, dia harus banyak beristirahat.

Di Jakarta, dia dan kelima cucu tinggal di sebuah kamar kontrakan yang harga sewanya Rp250 ribu per bulan.

Di kamar yang sempit itu, mereka berenam tidur, memasak, pokoknya apa saja.

“Kalau dibilang sempit ya sempit. Tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya pasrah.

Beruntung, cucunya yang duduk di SD, SMP dan SMA itu berprestasi di sekolah. Dia pun tak perlu repot memikirkan biaya sekolah bulanan mereka.

“Uang jajan saja yang diberi setiap pagi. Ada yang Rp1.000, ada yang Rp2.000 dan ada juga yang Rp3.000. Tergantung sekolahnya,” jelas dia.

Menurut dia, cucu-cucunya mengerti kondisi keuangan neneknya dan tak pernah meminta macam-macam. Bahkan si sulung Haryanto, berniat langsung mencari kerja begitu menamatkan sekolahnya.

Untuk makan sehari-hari, Hadiani menyisihkan beras yang dikumpulkannya untuk dimasak dan dimakan bersama. Kadang dia mendapat belas kasihan dari para tetangga yang iba kepada nasibnya.

“Makan seadanya saja, kadang pakai lauk kadang tidak,” jelasnya.

Hadiani tak berharap banyak, hanya ingin sehat selalu dan mampu membiayai cucunya hingga lulus sekolah.

Dia tak bisa membayangkan nasib cucu-cucunya jika dirinya jatuh sakit.

“Semoga saya sehat selalu,” katanya lirih.

Hadiani tak sendiri, di negeri ini, puluhan juta penduduk harus hidup sekeras Hadiani. Mereka hidup di bawah garis kemiskinan, walaupun setiap tahun triliunan rupiah digulirkan untuk pengentasan kemiskinan.

Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2011 adalah 30,02 juta orang. Angka ini sama dengan 12,49 persen dari total penduduk Indonesia.

Kemiskinan Akut Di Indonesia dan Cara Menjadikan Mereka Kaya

Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Maret 2010, ada 31,02 juta penduduk miskin di Indonesia, atau 13,33 persen dari total penduduk Indonesia.

Angka ini turun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebanyak 32,53 juta.

Bagian terbesar penduduk miskin hidup di desa. Mereka ini lalu menoleh perkotaan untuk mengatasi kemiskinan mereka. Maka arus urbanisasi pun mengencang.

Namun karena banyak dari mereka tak cukup terdidik dan tak cukup keahlian, kehadiran mereka di kota malah memindahkan kemiskinan dari desa ke kota atau mempertinggi angka kemiskinan kota.

Keadaan itu terjadi pula di Jakarta. Malah, persaingan hidup yang sengit dan lahan yang kian menyempit, memaksa jutaan orang miskin kota tinggal di daerah-daerah tak layak ditempati, sampai-sampai ada yang harus menempati sudut-sudut yang selain membahayakan dan merusak tata kota, tapi juga bukan haknya.

Mereka ini termasuk yang tinggal di wilayah bantaran rel kereta api milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Diataranya yang terdapat di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, tepatnya depan kampus STIA LAN, Jakarta.

Di sini, bangunan-bangunan semi permanen menyesaki lahan pinggir rel. Bangunan-bangunan ini ditinggali ratusan kepala keluarga yang hanya satu meter dari bibir rel.

Mereka sudah tidak mempedulikan keselamatan diri mereka. Namun, karena sudah biasa, dan pastinya karena dipaksa oleh tuntutan hidup, mereka menjalani juga kehidupan penuh risiko itu.

Kebanyakan dari mereka adalah kaum pendatang yang berurbanisasi dari wilayah-wilayah seperti Indramayu, Cirebon, Madura, dan banyak tempat lainnya.

Setiap keluarga menyesaki ruangan seukuran 3×3 meter persegi yang disusun dari potongan-potongan kayu. Di ruang sesempit ini rata-rata ada tiga orang di dalamnya.

Mereka rata-rata berdagang, tukang bangunan, supir taksi, sopir bajay, tukang ojek, tukang cuci pakaiaan, pembantu rumah tangga, dan profesi informal lainnya.

Jangan anggap mereka gratis menempati gubuk-gubuk itu, sebaliknya mereka harus membayar sewa kepada penghuni awal lahan milik PT KAI tersebut.

“Jangan salah lho, kami ngontrak untuk bisa tinggal di rel ini,” kata Ujang Supriatna (29).

Bayarannya, kata penjual gorengan keliling ini, adalah Rp200 ribu sebulan, dengan fasilitas aliran listrik dan tempat MCK.

Ujang mengaku sudah tiga tahun tinggal di situ. Tentu saja dia tinggal bersama keluarganya.

Mereka sadar

Sulit membayangkan bisa hidup di tempat sesumpek itu. Tapi, mereka bahkan ada yang sudah berpuluh tahun tinggal di situ. “Saya tinggal di sini sejak tahun 1985,” kata Oom komariyah (47).

Ibu rumah tangga beranak tiga itu mengungkapkan kehidupan seperti ini sudah ada sejak dia dan suaminya hijrah dari Tasikmalayua ke Jakarta 25 tahun silam untuk mengadu nasib.

Demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Oom membuka warung di sisi rel yang berjarak hanya satu meter dari jalur kereta api, sementara suaminya menjadi tukang bangunan.

Mereka benar-benar sudah terbiasa hidup di kesumpekan, sampai-sampai harus menyimpan properti mereka di luar gubuk. Mereka yang memiliki sepeda motor atau gerobak, terpaksa memarkir asetnya itu di ruang di antara dua rel kereta api.

“Ya mau gimana lagi, orang lahannya sempit,” kata Kosim Rohimat (33).

Kosim berprofesi sebagai pedagang mie ayam dan kadang nyambi menjadi tukang bangunan, sedangkan sang istrinya bekerja sebagai tukang cuci di rumah susun tak jauh dari tempat mereka tinggal.

Bukan hanya kalangan dewasa yang terbiasa di kesumpekan, anak-anak mereka pun terbiasa bermain di wilayah yang tak menyisakan sejengkal pun tanah untuk tempat bermain anak itu.

Meski menganggap gubuk-gubuk itu istananya, tapi mereka sadar telah menempati lahan yang bukan haknya, sehingga kalau ditertibkan mereka akan menerimanya.

“Kita sih terima aja ditertibkan karena memang ini bukan tanah saya,” kata Oom.

Yang Oom dan warga bantaran rel lainnya minta adalah mengkomunikasikannya dulu kepada mereka, jangan asal bongkar dan gusur.

“Ditertibkan sih boleh boleh saja, yang penting diberitahukan kepada semua warga di sini,” kata Usep.

Warga asal Garut ini ingin ada musyawarah terlebih dahulu sebelum ditertibkan, termasuk membincangkan kompensasi untuk mereka.

Warga seperti Oom mengharapkan kompensasi itu diantaranya pinjaman usaha dan biaya pemulangan mereka ke kampung. “Saya sih terima kasih kalau nanti ada bantuan, moga-moga bisa lancarin usaha saya,” kata Oom.

Selama ini hanya keterpaksaan yang membuat mereka tinggal di bantaran rel. Mereka melakukannya dmei mencoba bertahan hidup di Jakarta, apalagi mereka sudah beranak pinak.

Pemerintah sendiri dalam waktu dekat akan menertibkan wilayah bantaran rel, mulai kawasan dekat flyover Slipi sampai kawasan Pintu Air Pejompongan. Jadi termasuk area di mana Oom, Ujang, Kosim dan ratusan keluarga lainnya tinggal.

Penertiban kawasan itu diberlakukan kepada wilayah di dua sisi bantaran rel, yaitu sisi wilayah Petamburan sejauh 1 meter dari rel dan sisi Pejompongan sejauh 5 meter dari rel.

Kiprah Kementerian Sosial

Sebelum penertiban dilaksanakan, ada baiknya mendengar dulu keluhan warga itu yang umumnya berharap mendapatkan kompensasi berupa bantuan modal. Tentu saja sebagai warga negara, mereka berhak difasilitasi negara.

Selama ini mereka mengandalkan pinjaman dari para rentenir karena mana mau bank menyalurkan kredit kepada warga miskin seperti mereka. Mereka menyebut para rentenir dengan “bank keliling”.

“Modal usaha sangat penting bagi kami,” kata Usep.

Pemerintah sendiri, diantaranya Kementerian Sosial, tak berdiam diri menjawab aspirasi warga miskin ini.

Kementerian Sosial sendiri, bersama PT. KAI, menyatakan kesiapannya membantu penduduk miskin yang rumah sumpek mereka itu akan segera ditertibkan. Kementerian akan memberdayakan masyarakat miskin kota, termasuk yang ada di bantaran rel kereta api.

Humas Kementrian Sosial Tati Nurhayati menyatakan, pihaknya siap mendampingi masyarakat yang menempati lahan milik PT. KAI.

Melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan, Kementeriam Sosial juga siap membantu pemulangan mereka ke kampung asalnya.

“Nantinya mereka akan dipulangkan ke kampung halaman masing masing,” kata Tati.

Khusus anak-anak yang tinggal di kawasan miskin itu, pemerintah menyediakan pelayanan khusus untuk anak balita, anak terlantar dan jalanan, anak yang berhadapan dengan hukum, anak cacat dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

Skema perlindungannya dimaktub dalam Program Kesejahteraan Sosial Anak(PKSA).

Sejak 2009 hingga 2010, Kementerian Sosial sudah mengalokasikan Rp194 miliar untuk program PKSA dan ini sudah menjangkau 148.890 anak yang memiliki masalah sosial, termasuk 4.884 anak jalanan.

Sementara untuk merespons keluhan seperti disampaikan warga bantaran rel, Kementerian Sosial memiliki progam khusus Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

Dalam skema ini, kelompok warga miskin bisa mendapat bantuan Rp20 juta. Dengan dana ini warga miskin mesti bisa mengembangkan usahanya sendiri.

Di Palu, Sulawesi Tengah, program KUBE mencatat sukses. Warga miskin yang mendapat bantuan skema ini berhasil mengembangkan usaha batu bata, sementara di Kabupaten Bangli, Bali, program serupa sukses mendorong usaha ternak sapi di sana.

Dengan keberhasilan seperti itu, program serupa bisa pula membantu mengeluarkan Oom dan banyak lagi warga miskin di bantaran rel atau warga miskin perkotaan lainnya, keluar dari jerat kemiskinan

330 Ribu Warga Jakarta Masih Miskin

Kemiskinanan ternyata masih menjerat banyak warga Ibukota, yang saat ini jumlah warga miskinnya mencapai 327.170 orang. Angka itu didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI, yang menetapkan garis kemiskinan dengan batas pendapatan Rp 331.169 per kapita per bulan.

Garis kemiskinan itu ditentukan berdasarkan dua faktor, yaitu komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp213.487, atau 64,46 persen; dan garis kemiskinan non makanan sebesar Rp117.682, atau 35.54 persen.

Menurut Kepala BPS DKI, Agus Suherman, dibandingkan tahun sebelumnya jumlah warga miskin di Jakarta cenderung menurun. Tahun sebelumnya jumlah warga miskin di Ibukota mencapai 327.170 jiwa, atau turun hampir 11 ribu orang.

Menurunnya jumlah penduduk miskin di Jakarta dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: kondisi ekonomi makro yang relatif stabil tercermin dalam pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun ini yang mencapai angka 6,21 persen. Juga, karena faktor inflasi yang cukup rendah selama periode Januari-Maret, yang hanya mencapai 0,92 persen, serta upah minimum provinsi (UMP) di DKI Jakarta yang meningkat dari Rp1.069.865 pada tahun lalu menjadi Rp1.118.009 di tahun ini.

Ketiga faktor tersebut menyebabkan garis kemiskinan pada tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2009. Tahun ini, garis kemiskinan ditetapkan di angka pendapatan sebesar Rp331.169 per kapita per bulan. Adapun di tahun 2009, nilainya Rp316.936.

Kendati demikian, angka kemiskinan di DKI Jakarta dinilai masih tergolong tinggi.

10.000 Anak Melacur Di Jakarta

Kemiskinan membuat masyarakat harus hidup membanting tulang. Bahkan anak-anak rela mencari duit untuk membantu orangtua termasuk menjadi pelacur sekali. Di Jakarta saja jumlah pelacur anak mencapai sekitar 10.000 orang.

Data ini diungkapkan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dalam evaluasi tahun 2008. “Kejadian ini sangat memprihatinkan. Apalagi berdasarkan data dari Departemen Sosial, sekurangnya 150 ribu anak Indonesia menjadi korban pelacuran anak dan pornografi tiap tahun,” jelas Ketua Umum Komnas PA, Dr.Seto Mulyadi, Senin (22/12).

Menurut Seto Mulyadi, jaringan pelacuran wanita di bawah usia 17 tahun juga menimpa kalangan siswi sekolah. Kondisi ini terjadi merata di kota-kota besar seperti Batam, Bali, Jakarta, Surabaya, Medan, Jogyakarta, Semarang dan Solo. “Anak-anak itu kerap diselundupkan ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura dan Jepang.”

Untuk itu, Komnas PA mendesak pemerintah membentuk Kementerian Khusus Anak mengingat begitu dahsyat dan kompleknya persoalan pelanggaran hak anak yang terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun. Selain itu, pemerintah harus melakukan upaya keras dalam penanganan dampak krisis ekonomi global

Potret Kemiskinan Jalanan Dari Anak Jalanan Indonesia

Anak jalanan ada di mana-mana. Mereka adalah bagian dari diorama kehidupan Kota Jakarta. Muda-ers tentu sering ngeliat mereka di tepi jalan, di kolong jembatan, di dekat lampu merah, di terminal bus, dan mungkin yang paling sering adalah di dalam kendaraan umum.

Siapa mereka?

Pada dasarnya anak jalanan adalah anak-anak berusia 6 sampai 18 tahun yang turun ke jalan untuk bekerja. Kebayang kan betapa sulitnya ngedapetin uang di Jakarta? Apalagi bagi anak jalanan yang usianya masih terlalu muda untuk bekerja. Muda-ers tentunya juga sering ngeliat anak jalanan yang masih balita (bawah lima tahun) mengamen dan mengemis di pinggir jalan.

Kegiatan sehari-hari anak jalanan

Segala pekerjaan bisa dilakukan oleh anak jalanan asalkan menghasilkan uang untuk makan, seperti mengamen, mengemis, menyemir sepatu, menjadi kuli panggul, dam menjadi pemulung. Penghasilan anak jalanan setiap hari berkisar Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Mendekati hari raya seperti Lebaran, penghasilan mereka bisa melonjak hingga tiga kali lipat dari biasanya!

Uang yang mereka peroleh biasanya digunakan untuk membeli makan dan memenuhi kebutuhan mereka yang lain, seperti membayar uang sekolah. Selain bekerja, ada beberapa anak jalanan yang masih ngelanjutin sekolahnya.

Biasanya mereka turun ke jalan setelah pulang sekolah. Meskipun hidup di jalan, satu hal yang patut Muda-ers hargai adalah keinginan mereka untuk menyelesaikan sekolah. Hal tersebut ternyata enggak mudah. Mereka harus berjuang mempertahankan keinginannya bersekolah, sementara di sekeliling mereka ada banyak anak jalanan yang meninggalkan bangku sekolah dan lebih memilih untuk bekerja.

Bekerja vs bermain

Muda-ers mungkin pernah berpikir bahwa anak jalanan adalah anak-anak yang kehilangan masa kecilnya. ”Bagaimana mungkin bisa bermain jika setiap hari mereka harus bekerja?” Itulah salah satu komentar yang sering didengar Tim MuDA ketika mewawancarai teman-teman.

Benarkah itu?

Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun harus bekerja, anak jalanan tetap bisa tertawa dan bermain bersama teman-teman seusia mereka. Hanya saja, mereka menjalani masa kecil di tempat yang ”enggak biasa”, yaitu jalanan.

Cita-cita mereka

Suatu pengalaman yang enggak akan pernah dilupakan oleh Tim MuDA ketika mewawancarai anak jalanan adalah mereka nyeritain semua harapan dan cita-cita mereka dengan begitu lancar.

Seperti anak-anak kebanyakan, mereka juga punya cita-cita ingin menjadi guru, polisi, bahkan artis! Alasan mereka memilih profesi tersebut sangatlah sederhana: biar bisa membantu orang lain dan dapat uang banyak.

Nah, setelah mendengar kisah anak jalanan tersebut, kini giliran Muda-ers untuk membantu mereka. Ada berbagai macam cara untuk ngeringanin beban hidup anak jalanan, salah satunya adalah dengan menyumbangkan buku-buku layak baca kepada mereka.

Sesederhana apa pun yang Muda-ers lakuin untuk anak jalanan, hal itu sangat berarti untuk mereka!

Kampung Miskin Di Jakarta Barat yang Selalu Gelap di Siang Hari

Permukiman yang padat di Jakarta Barat, nyaris tidak menyisakan ruang bagi sinar matahari menerangi jalan kampung. Permukiman kumuh, padat, dan selalu gelap meski di siang hari merupakan keseharian di sejumlah permukiman kumuh di Jakarta Barat.

Kondisi tersebut ditemukan setidaknya di Gang Venus, RW 03, Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora.

Adi, pengurus RW yang mengantar Kompas, mengajak berkeliling gang sempit yang harus dilalui bergantian jika dua orang berlawanan arah berpapasan. Lebar gang hanya sekitar satu meter hingga satu setengah meter.

Suasana gelap menyergap karena di beberapa ruas Gang Venus, di bagian atap gang juga, ditutup hunian warga dari bahan kayu semipermanen. Udara terasa pengap di lokasi tersebut karena minim sirkulasi udara.

Bahkan sejumlah ibu rumah tangga memasak dan mencuci di gang sempit di antara rumah- rumah mereka. Pengendara motor pun sulit bergerak di gang sempit itu.

”Kalau ada kebakaran bisa langsung habis kampung ini. Rumah sangat rapat dan banyak material dari kayu,” kata Adi.

Kepadatan penduduk di RW 03, Kelurahan Jembatan Besi, menurut Cholil, mencapai 6.000 jiwa lebih di wilayah seluas enam hektar atau rata-rata 1.000 orang penghuni di tiap hektar lahan. Jauh di atas angka ideal sebuah hunian yang maksimal 300 jiwa per kilometer persegi.

Kondisi serupa terlihat di Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Nyonya Ida, warga Kelurahan Kalianyar, mengaku dua anaknya tiap malam harus tidur di pos ronda karena rumah ukuran 4 meter x 3 meter tidak sanggup menampung enam orang anggota keluarga.

Gang-gang gelap juga terlihat di sekitar rumah Ida. Bangunan tiga lantai berimpitan, kabel menjuntai menggantung di luar rumah-rumah semipermanen. Jamban pun dibangun di gang di sela rumah warga untuk digunakan bersama.

Sekretaris Kecamatan Tambora Maulana Ali mengatakan, di perkampungan kumuh diupayakan razia kabel untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Solusi rumah susun

Wali Kota Jakarta Barat Djoko Ramadhan mengatakan, kepadatan penduduk di perkampungan padat dan kumuh sudah tidak dapat ditolerir. Kebutuhan pembangunan rumah susun menegah ke bawah sudah sangat mendesak di Jakarta Barat.

”Pembangunan rumah susun dan apartemen menengah ke bawah terus dirintis. Setidaknya di Cengkareng apartemen menengah ke bawah sudah di bangun. Rumah susun milik juga dalam proses pembangunan di kawasan tersebut. Sejumlah pengembang seperti yang membangun Seasons City menyatakan siap membangun rumah susun untuk masyarakat miskin,” kata Djoko.

Sejumlah proyek rumah susun untuk rakyat kecil di Jakarta Barat memang sudah berdiri seperti di Rumah Susun Cinta Kasih Tzu Chi di Cengkareng. Namun, kebutuhan tetap tinggi karena laju urbanisasi dan kelahiran yang tidak terkendali.

Rumah susun yang ada pun banyak yang berada dalam keadaan memprihatinkan. Uhi, warga Kelurahan Angke, mengatakan, rumah susun yang ada sudah dalam keadaan kumuh.

”Kabarnya ada peremajaan. Jumlah lantai akan ditambah di Rumah susun Angke. Warga lama minta prioritas dapat kembali menghuni di sana. Warga lama banyak yang resah,” kata Uhi.

Itulah ironi Jakarta Barat yang menjadi potret manajemen negeri ini. Pembangunan apartemen mewah terus tumbuh di saat tidak ada ketersediaan rumah susun menengah ke bawah yang sangat dibutuhkan warga di kampung yang selalu gelap