Category Archives: Kalimantan

Penduduk Miskin Tambah 20 Persen, Di Kalimantan Setengah Juta Buruh Akan Di PHK

Anjloknya harga tandan buah segar kelapa sawit di Provinsi Riau diprediksi akan menambah angka kemiskinan sebesar 20 persen di daerah kaya minyak itu. Di Kalimantan, jatuhnya harga kelapa sawit akan berakibat pada pemutusan hubungan kerja hampir setengah juta pekerja di sektor ini.

Bila dalam dua bulan ke depan gejolak harga tandan buah segar (TBS) juga tidak berubah, 196.467 keluarga petani kelapa sawit swadaya akan masuk dalam kategori miskin.

”Dengan asumsi satu keluarga memiliki empat anggota, maka jumlah penduduk yang terkena imbas anjloknya harga sawit hampir mencapai 1 juta orang atau 20 persen dari total penduduk Riau yang mencapai 5 juta orang. Ditambah angka kemiskinan, menurut data BPS saat ini mencapai 11 persen, maka penduduk miskin Riau akan mencapai 31 persen,” ujar Edyanus Herman Halim, pengamat ekonomi Riau dalam diskusi ”Dampak Anjloknya Harga Kelapa Sawit” oleh Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau di Pekanbaru, Selasa (21/10).

Menurut Edyanus, penghitungan kenaikan angka kemiskinan itu didasarkan pada penghitungan turunnya pendapatan petani sawit dalam sebulan terakhir yang mencapai 77,49 persen. Pada Agustus lalu, harga TBS masih mencapai 1.550 per kilogram dan pada pekan terakhir mencapai Rp 250 sampai Rp 350 per kg.

”Kalau sampai PHK terpaksa dilakukan, tidak hanya berdampak bagi 500.000 pekerja di sektor perkebunan sawit, tetapi juga sekitar 2 juta orang keluarga mereka. Jumlah ini hampir separuh dari jumlah penduduk di Kalbar yang berkisar 4 juta jiwa,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Kalbar Ilham Sanusi dalam dialog asosiasi pengusaha kelapa sawit dan karet di Kalbar, Selasa di Pontianak.

Untuk sedikit membantu meringankan beban pengusaha sawit, GPPI Kalbar mengusulkan agar pemerintah pusat menghapuskan pajak ekspor kelapa sawit yang mencapai 5 persen serta membangun tangki penimbunan CPO di Kalbar. Pemerintah diharapkan pula menurunkan harga solar industri bagi industri pengolahan CPO dan menyubsidi pupuk bagi perkebunan sawit

Iklan

Temuan Kasus Gizi Buruk Bertambah Di Kalimantan

Temuan kasus anak balita bergizi buruk di Kalimantan Selatan meningkat. Apabila bulan Maret terdapat 14 kasus, pertengahan Juni jumlahnya melonjak menjadi 95 kasus, 6 di antaranya meninggal. Selain kemiskinan dan rendahnya pengetahuan, kurangnya tenaga kesehatan juga menjadi penyebab.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan Rosehan Adani melalui Kepala Subdinas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Rudiansyah, Kamis (19/6) di Banjarmasin, menyatakan, kasus gizi buruk terjadi hampir merata di 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Anak balita penderita gizi buruk kini mendapat makanan tambahan berupa bubur instan, biskuit, dan susu. Selain itu, tiap keluarga mendapat Rp 750.000 dari Pemerintah Provinsi Kalsel untuk perbaikan gizi.

Menurut Rudiansyah, kesehatan anak balita tidak terpantau karena 95 persen tidak pernah dibawa ke posyandu. Selain miskin, kesadaran orangtua terhadap kesehatan rendah akibat rendahnya pendidikan. ”Pendidikan orangtua 90 persen hanya sekolah dasar, bahkan ada yang tidak tamat,” katanya.

Pelayanan kesehatan juga terbatas. Dari 1.892 desa di Kalsel, sebanyak 816 desa belum punya bidan desa. Pemprov Kalsel menargetkan, tahun 2010 seluruh desa di Kalsel memiliki bidan.

Rudiansyah memprediksikan, temuan gizi buruk akan makin banyak akibat makin beratnya kondisi ekonomi.

Salah satu penderita, Aminah (2), anak bungsu Farida (35), saat ditemui rumah kontrakan di Gang Gandapura, Banjarmasin, Kamis petang, kondisinya mulai membaik setelah mendapat makanan tambahan.

Farida punya tiga anak lain, yaitu Fitri (10), Muhammad (7) yang berbadan kurus dan tidak bisa bicara, dan Suharda (6) yang mengalami lumpuh. Farida bekerja sebagai pengupas bawang. Suaminya, Ramli, bekerja di Malaysia dan tidak ada kabar.

Sementara di Palangkaraya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah Djono Koesanto menuturkan, pihaknya berusaha menjaring kasus anak balita bergizi buruk di Kalteng lewat posyandu. Ada 1.700 posyandu aktif di 13 kabupaten/kota di Kalteng. Hasilnya, lima bulan terakhir ditemukan 10 kasus gizi buruk di beberapa kabupaten.

Ahli gizi

Selain mengaktifkan posyandu, ada juga proyek percontohan memberantas gizi buruk dengan menempatkan 10 lulusan akademi gizi sebagai pendamping dan pelatih kader posyandu serta mengunjungi warga untuk memberikan penyuluhan kesehatan dan gizi kepada para orangtua.

Para petugas dikontrak Dinas Kesehatan Kalteng dengan upah Rp 500.000 per bulan.